Selasa, 17 Januari 2017

SOLUSI SUKSES

                                    Solusi Sukses                                      
عَلَّمَ الاِنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَم 
Maka Dia mengajarkan manusia  pada sesuatu yang belum ia ketahui.
Tidak ada seorangpun umat manusia hidup ingin gagal dalam hidupnya atas apa yang diharapkan dan dicita-citakan, pasti ingin berhasil bahkan mencapai kesuksesan, sukses didunia dan akhirat, jasmani dan rohani serta lahir dan batin. Adapun segala sesuatu yang di lakukan akan bisa sukses membuahkan hasil maka perlu dibuktikan akal logika secara nyata. Walaupun kelihatannya seperti logis tetapi ketika tidak produktif membuahkan hasil yang tepat dan sempurna berarti tidak logika, artinya cara menggunakan logikanya ngawur. Seharusnya menggunakan logika yang benar itu seperti hitungan aljabar atau matematika sederhana 7x7 = 49 10+3=13. Seandainya ada hitungan 10-3=15 atau 77:10=10 itu tidak tepat  berarti menyalahi kaidah2 dasar hukum aljabar (ilmu pasti). Jikalau dianggap logis akan tetapi tidak logika, tidak membuahkan hasil yang tepat dimungkinkan metode mengerjakan dalam ilmu aljabar atau matematika kesalahan rumus atau orang yang menghitung itu sendiri ada suatu gangguan pada saraf-saraf otak di karenakan saraf mereka tersumbat gumpalan darah, entah gagar otak atau karena lainnya, seperti minum yang mengandung alkohol atau sabu-sabu sehingga mabuk. Ketidak tepatan dalam hasil hitungan dikarenakan ada gangguan saraf seperti itu tidak boleh merubah rumus hukum kaidah ilmu pasti melainkan orang tersebut perlu berobat kedokter jika perlu direhabilitasi ulang untuk belajar atau kuliah lagi.
Dizaman modern banyak umat manusia yang hidupnya disibukkan dan menyibukkan diri dalam urusan pekerjaan dan uang, uang dan pekerjaan sehingga otak mereka lupa pada kewajibannya hidup beribadah mengabdi kepada Allah Dzat yang Menghidupkan, bahkan sampai lupa mereka hidup butuh makan akan tetapi lupa makan atau tidak enak makan dikarenakan sibuk pekerjaan.
Ketika orang hidup ingat dan sadar ada Dzat yang Menciptakan dan Dzat yang  Menghidupkan, tidak hidup dengan sendirinya dan tidak lupa kuwajiban kuwajiban ikhtiyar memilih pekerjaan yang baik dan benar kemudian mereka mau mengerjakannya pasti hidupnya jelas terarah dan selamat, tentram dan tenang walaupun toh hidupnya sederhana dan mereka pasti dapat kebahagian didunia dan akhirat. Sebab hidupnya terasa ringan tidak sendirian, sudah ada Dzat yang Menguasai, Memberi rizqi, Mengasihi dan Dzat yang Menolong dan Dzat yang Dipasrahi dan Dzat yang Menanggung, jadi hidup hanya tinggal mengalir dan menjalani saja.
Akan tetapi ketika orang hidup merasa hidup sendiri tidak ada Dzat yang Menciptakan dan Dzat yang Menghidupkan dan Dzat yang Menguasai, Memberi rizqi, Mengasihi dan Dzat yang Menolong dan Dzat yang Dipasrahi dan Dzat yang Menanggung, walaupun mereka memiliki harta titipan Allah SWT kemudian mereka tidak sadar, hanya menuruti hawa nafsu yang menggebu-gebu maunya sendiri pasti hidupnya resah kurang terarah bahkan tidak mau diingatkan jika salah arah sehingga bisa terjerumus pada kehinaan dan keselamatannya hidup didunia dan akhirat. Naudzu billahi mindzalik. Maka dari itu sebelum menentukan dan melakukan apapun dalam hidup ini perlu dipikir dan dipertimbangkan matang matang supaya seimbang lahir dan batin, bisa merasakan kesempurnaan hidup sesuai dengan dasar aturan hidup dari Dzat yang Menghidupkan. Sebab hidup umat manusia itu pasti ada aturan, kalau kehidupan tidak ada aturan itu berarti kehidupan hewan yang tidak punya akal pikiran. Allah berulang kali mengingatkan dalam FirmanNya:
Allah berulang kali mengingatkan umat manusia dalam Firman-Nya:
افلا تتفكرون Apakah engkau tidak berpikir?      
افلا تعقلون    Apakah engkau tidak berpikir dengan akal yang sehat?     
افلا يتبرون   Apakah mereka tidak berpikir yang dalam?         
 افلايتذكرون  Apakah mereka tidak mengingat contoh sejarah yang sudah berlalu, 
seperti  sejarah Nabi-Nabi, Sahabat, Tabi’in, Tabiit tabi’in, Ulama’ Salaf, Sunan dan Ulama’sholeh dalam menerapkan agama? Didalam kalimah-kalimah tadi Allah SWT mengingatkan kita agar berpikir berulang kali tidak boleh gegabah agar mau memperhatikan sunatullah dan ciptaanNya yang merupakan tanda kekuasaanNya yang pasti dan nyata, serta memperhatikan FirmanNya sehingga mengenal Allah dan memahami bahwa aturan agama Allah itu adalah ilmu pasti, logis dan logika supaya masuk dalam golongan ulil-albab (manusia berakal sehat) akhirnya mempunyai prinsip dan aqidah kuat dan terarah prilakunya dijalan Allah SWT.
Dan manusia Ulil Albab ini mampu membaca pertanda alam serta memahami gejala-gejala terjadinya suatu peristiwa tertentu yang tidak dapat difahami oleh umumnya manusia yang hanya mengandalkan rasio nalitas kerja otaknya saja.
Begitu pentingya kita perlu menyadari tentang peran penting dari fungsi akal dan otak kita yang terarah dan mendapatkan pentunjuk ilahi sebab, bila kita telusuri lebih lanjut ternyata ada sangkut pautnya dengan terjadinya kemerosotan dan kebobrokan mental dan moral manusia yang tidak lain disebabkan karena memori simpanan otaknya tidak ada sama sekali ukiran nama-nama sifat Tuhan Allah SWT. Dan yang ada hanya ilmu pengetahuan yang mengandalkan pendekatan materialistik, dan nafsu duniawai sehingga kerja otak yang demikian itu tidak ada henti-hentinya hanya memikirkan kepuasan sesaat yang berdampak pada rusaknya mental dan moral dan hilangnya etika manusia.
Sistem kerja otak manusia yang terjerumus penuh dengan nafsu duniawi, sesungguhnya akan berdampak dalam kehidupan sehari hari, dimana manusia tersebut akan mengalami ketersiksaan batin dan tidak akan mampu merasakan nikmat hidup yang sebenarnya. Maka untuk mengembalikannya mereka pada kefitrahannya adalah memperbaiki dan mendalami ilmu pengetahuan yang mengenalkan pada nama sifat dan pekerjaan Allah sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.
Manusia bila hanya mengisi ilmu yang mengandalkan rasionalitas akal, mereka akan mengalami ketimpangan dalam menjalani hidup. Dengan demikian maka diperlukan keseimbangan lewat ilmu Ad-din yakni ilmu agama yang menjelaskan tentang perlunya manusia mengerti bahwa Allah SWT itu ada, Yang Menciptakan, Menguasai, Mengatur yang harus ditaati dan disembah.
Diantara umat Islam ada yang kelihatan mereka sudah menjalankan beribadah sejak kecil namun sukar berkembang mutu ibadahnya, bahkan cenderung merosot. Hal itu mungkin saja dikarenakan banyaknya pikiran dan tanggung jawab duniawi yang ia rasakan dan pada akhirnya lupa terhadap peningkatan kualitas amal ibadahnya. Memang hidup itu penuh perjuangan yang tiada habisnya, hal ini akan terus dirasakan manusia hingga Malaikat Izroil selesai mencabut Ruh yang dikandung badan untuk dikembalikan kepada Allah Sang Maha Pencipta. Banyak sekali permasalahan manusia hidup yang harus di kerjakan dan diperjuangkan dan juga harus dipertanggung jawabkan. Mulai pagi hari kita dituntut untuk bekerja atau mengatur suatu urusan sampai pada siang harinya atau bahkan hingga larut malam, mereka masih disibukkan dengan pekerjaan hanya ingin menumpuk uang dan harta untuk keperluan keluarga.
Mungkin ada pertanyaan, mengapa keadaan  dunia  ini  makin  hari  semakin memprihatinkan, mencari pekerjaan sulit, harga barang terus naik melambung setinggi langit, namun nilai akhlak dan iman manusia makin hari semakin merosot tidak bisa naik naik, sukar diperbaiki dengan segala cara dan metode apapun masih belum juga berhasil ?. Banyak manusia yang sudah tidak punya malu dan tidak takut berbuat kesalahan, kemaksiatan dan kejahatan dihadapan manusia yang terlihat dan disaksikan sesama manusia dianggap biasa, apalagi pada Tuhan sang Pencipta alam Allah Rabbul alamin yang Maha Gaib. Apa penyebabnya? Jawabannya: Tiada lain karena manusia tidak tahu dan tidak mau memperhatikan atau tidak mengenal konsep program awal wahyu Ilahi (Iqro’), sehingga dalam hidup mereka tidak punya pegangan yang kuat atau landasan yang kokoh. Sebenarnya mempelajarin dan melakukannya sangat mudah tidak berat bagi siapapun.
Allah SWT Dzat yang menyayangi pada hambanya mengutus rasul dengan konsep yang mudah, tidak mempersulit dan memperberat pada hambaNya dalam menggapai hidayah atau petunjuk benar, karena hal tersebut disesuaikan dengan kemampuan hambanya. Namun kebanyakan manusia menginginkan kontan pada sesuatu yang ada hubungannya dengan masalah duniawi  Kadang manusia itu dalam menggapai petunjuk atau kebenaran dengan menanti tanpa usaha. Hal ini merupakan suatu pendapat yang keliru. Ibarat orang yang ingin buah kelapa tapi tidak mau memanjatnya tapi hanya menungguinya di bawah pohon. Yang penting mau belajar dan mengkaji konsep progam awal wahyu Ilahi IQRO’ dahulu. Pasti nanti akan menemukan pada suatu petunjuk benar, visi misi dan manfaat yang luar biasa. Jika manusia sudah mendapatkan petunjuk serta bimbingan dari Allah SWT yang benar maka manusia pasti tegak dan tegar menjalankan syariah Nabi Nya dalam hidup dan kehidupan di dunia ini, sehingga tidak berani menentang hukum Allah SWT. Dan tiada manusia yang dapat mempengaruhi bahkan setanpun tak akan mampu menggoda mereka dan menyesatkannya.                      
Allah SWT berfirman :                                                                                                    
وَمَنْ يَهْدِ اللهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ                                                                                 
Artinya : Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah , maka tidak seorangpun yang bisa menyesatkan. (Q S.Az- zumar A: 37 ).
Kemudian Allah SWT memerintahkan malaikat untuk mendampingi kita dan mengawasi setiap langkah. Malaikat menurut bahasa istilah orang Jawa dari peringatan para Sunan dahulu (ojo lali dulur papat limo pancer), maksudnya “Jangan lupa pada Malaikat yang jadi dulur (saudara) sesama mahluq ciptaan Allah SWT yang selalu mendampingi menusia”.
1-Malaikat Hafidz/penjaga dalam jiwa manusia 
  اِنْ كُلّ نَفْسٍ لَمَّاعَلَيْهَاحَافِظٌ                                                                                        
Artinya: Tiada suatu jiwapun melainkan ada penjaganya.
2-Malaikat Roqib/pencatat amal  yang baik
3-Malaikat Atid/pencatat amal yang buruk
 مَايَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ                                                                                 
Artinya: Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada didekatnya  (pengawal) Malaikat Roqib Atid (S Qoof Ayat 18).                            
4-Malaikat Muaqqibat/pengawal di depan
5-Malaikat Muaqqibat/pengawal di belakang 
 لَهُ مُعَقِّبَتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُوْنَهُ مِنْ اَمْرِاللهِ 
ARtinya : Bagi manusia ada Malaikat Malaikat yang selalu mengikuti bergantian dimuka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah (S. Arro’du :11).
Dengan keterangan ayat di atas, merupakan khabar gembira bagi umat manusia hidup didunia, terutama mereka yang sudah mendapatkan jaminan petunjukd-Nya, Allah telah memberi malaikat yang selalu mendampingi dan menjaga. Hal tersebut perlu disyukuri dengan beriman dengan adanya malaikat itu, dan bersikap baik pada mereka dengan cara menyampaikan bacaan salam terhadap mereka pada waktu menutup sholat fardhu mau pun sunnah. Sehingga bisa menambah iman pada Malaikat dan gaul dengan mereka. Sebagai orang muslim bukan hanya bisa kenal dengan pejabat konglomerat dapat dikategorikan orang gaul, justru mereka yang kenal pada Malaikat, gaul dengannya sering menyapanya dan berkomunikasi dengannya, menyampaikan salam ditutupan shalat dan saat saat tertentu ketika diperlukan.  
Ada kabar gaib yang cukup mengejutkan, yaitu banyaknya Malaikat dahulu ramah tamah dan peduli pada umat Islam justru sekarang banyak sekali yang acuh taacuh, mereka begitu tidak peduli, mereka membiarkan umat Islam terjerumus dan terlantar karena banyak umat Islam yang acuh taacuh, kurang percaya pada adanya Malaikat Hafadzoh/penjaga dirinya yang sudah ditugaskan oleh Allah SWT. Bukti, banyak umat Islam kurang gaul enggan dan malas menyapa dengan menyampaikan salam pada mereka saat membaca salam diakhir shalat ferdhu atau sunah. Entah lupa atau tidak mengerti. Kaum muslimin banyak beranggapan bahwa membaca salam diakhir shalat itu dianggap hanya penutup shalat saja. Sedangkan salam itu  merupakan rukun shalat sebagai do’a dan sapaan pada Malaikat yang mendapinginya sebagai petugas dari Allah SWT agar menjaga dan mengawasi manusia. Dan salam itu salam kepada sesama muslimin seandainya ada yang shalat disekitarnya. Ketika manusia mendoa-kan dengan menyampaikan salam dan menyapa pada Malaikat pasti Malaikat membalas mendoakan dan menyapanya. Karena Malaikat itu mempunyai akal seperti manusia pasti mereka membalas dan memperhatikannya, tidak acuh tak acuh.
Dan ada kabar ghaib lagi, percaya boleh seandainya tidak percaya tidak apa-apa, tidak dosa sebab bukan rukun Iman namun kabar ini hanya suatu kemungkinan (minal mumkinat). Bahwa dinegara yang  warganya matrialistis, orentalis kapitalis dan tidak yaqin adanya Tuhan yang maha Esa, syetan disana berbondong-bondong imigrasi ke-Indonesia sebab dinegara sana tidak ada pekerjaan sama sekali, mereka pengangguran. Persoalannya warganya sudah menjadi teman baik penghuni neraka sehingga tidak usah digoda dan dikerjain. Namun setelah berada di Indonesia ternyata mereka kembali merasa kecewa lagi, karena jarang juga ada kesempatan pekerjaan diIndonesia sehingga iblis kepala setan pusing kuwalahan mengatur setan-setan yang berkumpul diIndonesia. Tidak sedikit setan imigran berdemo unjuk rasa minta pansiun dini. Walaupun warga Indonesia mayoritas muslim dan terbanyak sedunia banyak yang kurang ber-Ketuhanan yang Maha Esa dan tidak sedikit warga Indonesia yang terperangkap pendapat: bahwa uang itu kuasa, akibatnya diantara mereka banyak masuk penjara karena menipu dan korupsi untuk menumpuk uang dan sampai tidak menghiraukan hak dan penderitaan orang lain.
Mengerjakan perintah Allah SWT Iqro’: Bacalah, dengan mengawali  membudayakan membaca pujian Asmaul Husna, istighfar, shalawat kemudian berdo’a, maka Allah menjamin memberi Hidayah pada manusia yang mereka belum ketahui. Allah SWT perintah memakai kalimah fi’il amar: iqro’ kemudian jawabnya memakai fi’il madhi: ‘allama yang berarti jaminan pasti. Mereka hidup pasti berjalan pada petunjuk yang benar.
Ketika mayoritas umat Islam warga negara Indonesia sudah:
1-     Bermental baja karena Ma’rifah kenal dan ingat Nama, Sifat dan Pekerjaan Allah dengan rutin membaca Asmaul-Husna dan belajar memahaminya serta bersih dan terarah otak pikirannya kemudian pelan-pelan mampu menjalankannya sehingga ber Ketuhanan yang maha Esa, dan tidak mau mengedepankan uang yang maha kuasa.
2-     Bermoral baik karena sadar pada Haqiqah jati dirinya dengan rutin membaca sayidul istighfar sampai hatinya bersih dari dosa dan sifat tercela sehingga  ber Kemanusiaan yang adil dan beradab dan tidak menjadi manusia yang korup dan biadab.
3-     BerTauhid menyatukan Allah SWT karena ingat Allah dan sadar jati diri. Dan mereka menyadari bahwa semua manusia sama sama ciptaan Allah yang menginginkan hidup damai berdampingan bersatu dalam kebinekaan sehingga berusaha menegakkan Persatuan Indonesia, dan tidak mendirikan persatuan profokator Indonesia.
4-     Menjalankan syari’at napak tilas Nabi Muhamad saw dengan belajar dan meniru Ulama’ Shalih serta sadar pada hukum  Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawatan perwakilan dan mereka tidak hanya menuruti hawa nafsunya sendiri, melanggar hukum sehingga muncul Kerakyatan yang dipimpin oleh nafsu jahat persekongkolan dalam kekuasaan
5-     Maka mereka pasti mendapatkan Hidayah dan hadiyah dari Allah SWT, wujudnya cita cita Ulama’ pahlawan Nusantara dan pejuang bangsa yang sangat ditunggu tunggu oleh seluruh rakyat, yaitu sukses: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Selanjutnya tidak muncul lagi kemiskinan dan keresahan melanda rakyat  Indonesia. Mereka hidup damai, rukun dan bahagia karena mereka sudah merasakan keadilan sosial, kemakmuran dan kesejahteraan yang merata.
Akhirnya tidak menutup kemungkinan bahwa bangsa kita Indonesia nanti akan menjadi Mercu Suar Dunia, sebagai contoh bangsa bangsa di seluruh dunia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar