Solusi Sukses
عَلَّمَ الاِنْسَانَ مَالَمْ
يَعْلَم
Maka Dia mengajarkan manusia pada sesuatu yang belum ia ketahui.
Tidak ada seorangpun umat manusia
hidup ingin gagal dalam hidupnya atas apa yang diharapkan dan dicita-citakan,
pasti ingin berhasil bahkan mencapai kesuksesan, sukses didunia dan akhirat,
jasmani dan rohani serta lahir dan batin. Adapun segala sesuatu yang di lakukan akan bisa sukses
membuahkan hasil maka perlu dibuktikan akal logika secara nyata. Walaupun
kelihatannya seperti logis tetapi ketika tidak produktif membuahkan hasil yang
tepat dan sempurna berarti tidak logika,
artinya cara menggunakan logikanya ngawur. Seharusnya menggunakan logika yang
benar itu seperti hitungan aljabar atau matematika
sederhana 7x7 = 49 10+3=13. Seandainya ada hitungan 10-3=15 atau 77:10=10 itu
tidak tepat berarti menyalahi kaidah2
dasar hukum aljabar (ilmu pasti). Jikalau
dianggap logis akan tetapi tidak
logika, tidak membuahkan hasil yang tepat dimungkinkan metode mengerjakan dalam
ilmu aljabar atau matematika kesalahan rumus atau
orang yang menghitung itu sendiri ada suatu gangguan pada saraf-saraf otak di
karenakan saraf mereka tersumbat
gumpalan darah, entah gagar otak atau karena lainnya, seperti minum yang mengandung alkohol
atau sabu-sabu sehingga mabuk. Ketidak
tepatan dalam hasil hitungan dikarenakan
ada gangguan saraf seperti itu
tidak boleh merubah rumus hukum kaidah ilmu pasti melainkan orang tersebut
perlu berobat kedokter jika perlu direhabilitasi ulang untuk belajar atau
kuliah lagi.
Dizaman modern banyak umat manusia yang hidupnya disibukkan dan menyibukkan diri dalam urusan
pekerjaan dan uang, uang dan pekerjaan sehingga otak mereka lupa pada kewajibannya
hidup beribadah
mengabdi kepada Allah Dzat yang Menghidupkan,
bahkan sampai lupa mereka hidup butuh makan akan tetapi lupa makan atau tidak
enak makan dikarenakan sibuk pekerjaan.
Ketika orang hidup ingat dan sadar
ada Dzat yang Menciptakan dan Dzat yang Menghidupkan,
tidak hidup dengan sendirinya dan tidak lupa kuwajiban kuwajiban ikhtiyar
memilih pekerjaan yang baik dan benar kemudian mereka mau mengerjakannya pasti hidupnya
jelas terarah dan selamat, tentram dan tenang walaupun toh hidupnya sederhana dan
mereka pasti dapat kebahagian didunia dan akhirat. Sebab hidupnya terasa ringan
tidak sendirian, sudah ada Dzat yang Menguasai, Memberi rizqi, Mengasihi dan
Dzat yang Menolong dan Dzat yang Dipasrahi dan Dzat yang Menanggung, jadi hidup
hanya tinggal mengalir dan menjalani saja.
Akan tetapi ketika orang hidup merasa
hidup sendiri tidak ada Dzat yang Menciptakan dan Dzat yang Menghidupkan dan
Dzat yang Menguasai, Memberi rizqi, Mengasihi dan Dzat yang Menolong dan Dzat yang
Dipasrahi dan Dzat yang Menanggung, walaupun mereka memiliki harta titipan
Allah SWT kemudian mereka tidak sadar, hanya menuruti hawa nafsu yang
menggebu-gebu maunya sendiri pasti hidupnya resah kurang terarah bahkan tidak
mau diingatkan jika salah arah sehingga bisa terjerumus pada kehinaan dan
keselamatannya hidup didunia dan akhirat. Naudzu billahi mindzalik. Maka
dari itu sebelum menentukan dan melakukan apapun dalam hidup ini perlu dipikir
dan dipertimbangkan matang matang supaya seimbang lahir dan batin, bisa
merasakan kesempurnaan hidup sesuai dengan dasar aturan hidup dari Dzat yang
Menghidupkan. Sebab hidup
umat manusia itu pasti ada aturan,
kalau kehidupan tidak ada aturan itu berarti kehidupan hewan yang tidak punya
akal pikiran. Allah berulang kali mengingatkan dalam FirmanNya:
Allah berulang kali mengingatkan
umat manusia dalam Firman-Nya:
افلا تتفكرون Apakah engkau tidak berpikir?
افلا تعقلون Apakah engkau tidak berpikir dengan akal
yang sehat?
افلا يتبرون Apakah mereka tidak berpikir yang dalam?
افلايتذكرون Apakah mereka tidak mengingat
contoh sejarah yang sudah berlalu,
seperti
sejarah Nabi-Nabi, Sahabat, Tabi’in, Tabiit tabi’in, Ulama’ Salaf, Sunan
dan Ulama’sholeh dalam menerapkan agama? Didalam kalimah-kalimah tadi
Allah SWT mengingatkan kita agar berpikir berulang kali tidak boleh gegabah
agar mau memperhatikan sunatullah dan ciptaanNya yang merupakan tanda
kekuasaanNya yang pasti dan nyata, serta memperhatikan FirmanNya sehingga
mengenal Allah dan memahami bahwa aturan agama Allah itu adalah ilmu pasti,
logis dan logika supaya masuk dalam golongan ulil-albab (manusia berakal sehat)
akhirnya mempunyai prinsip dan aqidah kuat dan terarah prilakunya dijalan Allah
SWT.
Dan manusia Ulil Albab ini mampu
membaca pertanda alam serta memahami gejala-gejala terjadinya suatu peristiwa
tertentu yang tidak dapat difahami oleh umumnya manusia yang hanya mengandalkan
rasio nalitas kerja otaknya saja.
Begitu pentingya kita perlu menyadari
tentang peran penting dari fungsi akal dan otak kita yang terarah dan
mendapatkan pentunjuk ilahi sebab, bila kita telusuri lebih lanjut ternyata ada
sangkut pautnya dengan terjadinya kemerosotan dan kebobrokan mental dan moral manusia
yang tidak lain disebabkan karena memori simpanan otaknya tidak ada sama sekali
ukiran nama-nama sifat Tuhan Allah SWT. Dan yang ada hanya ilmu pengetahuan
yang mengandalkan pendekatan materialistik, dan nafsu duniawai sehingga kerja
otak yang demikian itu tidak ada henti-hentinya hanya memikirkan kepuasan
sesaat yang berdampak pada rusaknya mental dan moral dan hilangnya etika
manusia.
Sistem kerja otak manusia yang
terjerumus penuh dengan nafsu duniawi, sesungguhnya akan berdampak dalam
kehidupan sehari hari, dimana manusia tersebut akan mengalami ketersiksaan
batin dan tidak akan mampu merasakan nikmat hidup yang sebenarnya. Maka untuk
mengembalikannya mereka pada kefitrahannya adalah memperbaiki dan mendalami
ilmu pengetahuan yang mengenalkan pada nama sifat dan pekerjaan Allah
sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.
Manusia bila hanya mengisi ilmu
yang mengandalkan rasionalitas akal, mereka akan mengalami ketimpangan dalam
menjalani hidup. Dengan demikian maka diperlukan keseimbangan lewat ilmu Ad-din
yakni ilmu agama yang menjelaskan tentang perlunya manusia mengerti bahwa Allah
SWT itu ada, Yang Menciptakan, Menguasai, Mengatur yang harus ditaati dan
disembah.
Diantara umat Islam ada yang kelihatan mereka sudah
menjalankan beribadah sejak kecil namun sukar berkembang mutu ibadahnya, bahkan
cenderung merosot. Hal itu mungkin saja dikarenakan banyaknya pikiran dan
tanggung jawab duniawi yang ia rasakan dan pada akhirnya lupa terhadap
peningkatan kualitas amal ibadahnya. Memang hidup itu penuh perjuangan yang
tiada habisnya, hal ini akan terus dirasakan manusia hingga Malaikat Izroil
selesai mencabut Ruh yang dikandung badan untuk dikembalikan kepada Allah Sang
Maha Pencipta. Banyak sekali permasalahan manusia hidup yang harus di kerjakan dan
diperjuangkan dan juga harus dipertanggung jawabkan. Mulai pagi hari kita
dituntut untuk bekerja atau mengatur suatu urusan sampai pada siang harinya
atau bahkan hingga larut malam, mereka masih disibukkan dengan pekerjaan hanya
ingin menumpuk uang dan harta untuk keperluan keluarga.
Mungkin ada pertanyaan,
mengapa keadaan dunia ini
makin hari semakin memprihatinkan, mencari pekerjaan
sulit, harga barang terus naik melambung setinggi langit, namun nilai akhlak
dan iman manusia makin hari semakin merosot tidak bisa naik naik, sukar
diperbaiki dengan segala cara dan metode apapun masih belum juga berhasil ?.
Banyak manusia yang sudah tidak punya malu dan tidak takut berbuat kesalahan,
kemaksiatan dan kejahatan dihadapan manusia yang terlihat dan disaksikan sesama
manusia dianggap biasa, apalagi pada Tuhan sang Pencipta alam Allah Rabbul
alamin yang Maha Gaib. Apa penyebabnya? Jawabannya: Tiada lain karena manusia
tidak tahu dan tidak mau memperhatikan atau tidak mengenal konsep program awal
wahyu Ilahi (Iqro’), sehingga dalam hidup mereka tidak punya pegangan yang kuat
atau landasan yang kokoh. Sebenarnya mempelajarin dan melakukannya sangat mudah
tidak berat bagi siapapun.
Allah SWT Dzat yang menyayangi pada hambanya
mengutus rasul dengan konsep yang mudah, tidak mempersulit dan memperberat pada
hambaNya dalam menggapai hidayah atau petunjuk benar, karena hal tersebut
disesuaikan dengan kemampuan hambanya. Namun kebanyakan manusia menginginkan
kontan pada sesuatu yang ada hubungannya dengan masalah duniawi Kadang manusia itu dalam menggapai petunjuk
atau kebenaran dengan menanti tanpa usaha. Hal ini merupakan suatu pendapat
yang keliru. Ibarat orang yang ingin buah kelapa tapi tidak mau memanjatnya
tapi hanya menungguinya di bawah pohon. Yang penting mau belajar dan mengkaji
konsep progam awal wahyu Ilahi IQRO’ dahulu. Pasti nanti akan menemukan pada
suatu petunjuk benar, visi misi dan manfaat yang luar biasa. Jika manusia sudah
mendapatkan petunjuk serta bimbingan dari Allah SWT yang benar maka manusia
pasti tegak dan tegar menjalankan syariah Nabi Nya dalam hidup dan kehidupan di
dunia ini, sehingga tidak berani menentang hukum Allah SWT. Dan tiada manusia
yang dapat mempengaruhi bahkan setanpun tak akan mampu menggoda mereka dan
menyesatkannya.
Allah SWT berfirman :
وَمَنْ يَهْدِ اللهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ
Artinya : Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah , maka tidak
seorangpun yang bisa menyesatkan. (Q S.Az- zumar A: 37 ).
Kemudian Allah SWT memerintahkan malaikat untuk
mendampingi kita dan mengawasi setiap langkah. Malaikat menurut bahasa istilah
orang Jawa dari peringatan para Sunan dahulu (ojo lali dulur papat limo
pancer), maksudnya “Jangan lupa pada Malaikat yang jadi dulur (saudara) sesama
mahluq ciptaan Allah SWT yang selalu mendampingi menusia”.
1-Malaikat Hafidz/penjaga dalam jiwa manusia
اِنْ
كُلّ نَفْسٍ لَمَّاعَلَيْهَاحَافِظٌ
Artinya: Tiada suatu jiwapun melainkan ada penjaganya.
2-Malaikat Roqib/pencatat amal yang baik
3-Malaikat Atid/pencatat amal yang buruk
مَايَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيْبٌ
عَتِيْدٌ
Artinya: Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada
didekatnya (pengawal) Malaikat Roqib
Atid (S Qoof Ayat 18).
4-Malaikat
Muaqqibat/pengawal di depan
5-Malaikat Muaqqibat/pengawal di belakang
لَهُ مُعَقِّبَتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ
يَحْفَظُوْنَهُ مِنْ اَمْرِاللهِ
ARtinya : Bagi manusia ada Malaikat Malaikat yang selalu mengikuti
bergantian dimuka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah (S.
Arro’du :11).
Dengan keterangan ayat di atas, merupakan khabar
gembira bagi umat manusia hidup didunia, terutama mereka yang sudah mendapatkan
jaminan petunjukd-Nya, Allah telah memberi malaikat yang selalu mendampingi dan
menjaga. Hal tersebut perlu disyukuri dengan beriman dengan adanya malaikat itu,
dan bersikap baik pada mereka dengan cara menyampaikan bacaan salam terhadap
mereka pada waktu menutup sholat fardhu mau pun sunnah. Sehingga bisa menambah iman
pada Malaikat dan gaul dengan mereka. Sebagai orang muslim bukan hanya bisa
kenal dengan pejabat konglomerat dapat dikategorikan orang gaul, justru mereka
yang kenal pada Malaikat, gaul dengannya sering menyapanya dan berkomunikasi
dengannya, menyampaikan salam ditutupan shalat dan saat saat tertentu ketika
diperlukan.
Ada kabar gaib yang cukup mengejutkan, yaitu
banyaknya Malaikat dahulu ramah tamah dan peduli pada umat Islam justru
sekarang banyak sekali yang acuh taacuh, mereka begitu tidak peduli, mereka
membiarkan umat Islam terjerumus dan terlantar karena banyak umat Islam yang
acuh taacuh, kurang percaya pada adanya Malaikat Hafadzoh/penjaga dirinya yang
sudah ditugaskan oleh Allah SWT. Bukti, banyak umat Islam kurang gaul enggan
dan malas menyapa dengan menyampaikan salam pada mereka saat membaca salam
diakhir shalat ferdhu atau sunah. Entah lupa atau tidak mengerti. Kaum muslimin
banyak beranggapan bahwa membaca salam diakhir shalat itu dianggap hanya
penutup shalat saja. Sedangkan salam itu
merupakan rukun shalat sebagai do’a dan sapaan pada Malaikat yang
mendapinginya sebagai petugas dari Allah SWT agar menjaga dan mengawasi manusia.
Dan salam itu salam kepada sesama muslimin seandainya ada yang shalat
disekitarnya. Ketika manusia mendoa-kan dengan menyampaikan salam dan menyapa
pada Malaikat pasti Malaikat membalas mendoakan dan menyapanya. Karena Malaikat
itu mempunyai akal seperti manusia pasti mereka membalas dan memperhatikannya,
tidak acuh tak acuh.
Dan ada kabar ghaib lagi, percaya boleh
seandainya tidak percaya tidak apa-apa, tidak dosa sebab bukan rukun Iman namun
kabar ini hanya suatu kemungkinan (minal mumkinat). Bahwa dinegara yang warganya matrialistis, orentalis kapitalis dan
tidak yaqin adanya Tuhan yang maha Esa, syetan disana berbondong-bondong
imigrasi ke-Indonesia sebab dinegara sana tidak ada pekerjaan sama sekali,
mereka pengangguran. Persoalannya warganya sudah menjadi teman baik penghuni
neraka sehingga tidak usah digoda dan dikerjain. Namun setelah berada di
Indonesia ternyata mereka kembali merasa kecewa lagi, karena jarang juga ada
kesempatan pekerjaan diIndonesia sehingga iblis kepala setan pusing kuwalahan
mengatur setan-setan yang berkumpul diIndonesia. Tidak sedikit setan imigran
berdemo unjuk rasa minta pansiun dini. Walaupun warga Indonesia mayoritas
muslim dan terbanyak sedunia banyak yang kurang ber-Ketuhanan yang Maha Esa dan
tidak sedikit warga Indonesia yang terperangkap pendapat: bahwa uang itu kuasa,
akibatnya diantara mereka banyak masuk penjara karena menipu dan korupsi untuk
menumpuk uang dan sampai tidak menghiraukan hak dan penderitaan orang lain.
Mengerjakan perintah Allah SWT Iqro’: Bacalah,
dengan mengawali membudayakan membaca
pujian Asmaul Husna, istighfar, shalawat kemudian berdo’a, maka Allah menjamin
memberi Hidayah pada manusia yang mereka belum ketahui. Allah SWT perintah memakai kalimah fi’il amar:
iqro’ kemudian jawabnya memakai fi’il madhi: ‘allama yang berarti jaminan pasti.
Mereka hidup pasti berjalan pada petunjuk yang benar.
Ketika mayoritas umat Islam warga negara Indonesia
sudah:
1-
Bermental baja karena Ma’rifah kenal dan ingat Nama, Sifat dan
Pekerjaan Allah dengan rutin membaca Asmaul-Husna dan belajar memahaminya serta
bersih dan terarah otak pikirannya kemudian pelan-pelan mampu menjalankannya sehingga
ber Ketuhanan yang maha Esa, dan tidak mau mengedepankan uang yang
maha kuasa.
2-
Bermoral baik karena sadar pada Haqiqah jati dirinya dengan rutin
membaca sayidul istighfar sampai hatinya bersih dari dosa dan sifat tercela
sehingga ber Kemanusiaan
yang adil dan beradab dan tidak menjadi manusia yang korup dan biadab.
3-
BerTauhid menyatukan Allah SWT karena ingat Allah dan sadar jati diri.
Dan mereka menyadari bahwa semua manusia sama sama ciptaan Allah yang
menginginkan hidup damai berdampingan bersatu dalam kebinekaan sehingga
berusaha menegakkan Persatuan Indonesia, dan tidak mendirikan persatuan
profokator Indonesia.
4-
Menjalankan syari’at napak tilas Nabi Muhamad saw dengan belajar dan
meniru Ulama’ Shalih serta sadar pada hukum Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawatan perwakilan dan mereka tidak hanya
menuruti hawa nafsunya sendiri, melanggar hukum sehingga muncul Kerakyatan
yang dipimpin oleh nafsu jahat persekongkolan dalam kekuasaan
5-
Maka mereka pasti mendapatkan Hidayah dan hadiyah dari Allah SWT,
wujudnya cita cita Ulama’ pahlawan Nusantara dan pejuang bangsa yang sangat
ditunggu tunggu oleh seluruh rakyat, yaitu sukses: Keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia. Selanjutnya tidak muncul lagi kemiskinan
dan keresahan melanda rakyat Indonesia. Mereka hidup damai, rukun dan bahagia karena mereka sudah merasakan keadilan sosial, kemakmuran dan kesejahteraan yang merata.
Akhirnya tidak menutup kemungkinan bahwa bangsa
kita Indonesia nanti akan menjadi Mercu Suar Dunia, sebagai contoh bangsa
bangsa di seluruh dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar