Revolusi Total
اِقْرَاْوَرَبُّكَ
اْلاَكْرَمُ الَّذِي عَلَّم بِالْقَلم
Bacalah dan Tuhanmu Pemurah
mengajarkan dengan pena
Allah SWT
mengulangi firmanNya اِقْرَا
dengan memperkokoh dalam satu
surat dua kali. Jadi kita manusia sebagai hambaNya, hendaknya memahami betapa
pentingngnya kita harus membaca membaca dan membaca yang membutuhkan waktu dan
ketekunan disiplin ilmu. Dan tidak sekedar membaca dan pokoknya sudah membaca.
Apa yang dibaca? Terus bagaimana?. Kemudian Allah SWT melanjutkan FirmanNya: وَرَبُّكَ اْلاَكْرَمُ Dan
Tuhanmu Pemurah / Mulia / Dermawan. Minta atau tidak minta Allah memberi, Allah
maha Pemurah dan maha Mengetahui sesuatu yang dibutuhkan Rasulullah saat masih
hidup sebagai utusan sehingga Beliau diberi dan diajari Al-Qur’an yang ditulis
dengan pena الَّذِي
عَلَّم بِالْقَلم di daun kurma, kulit, batu dll sebagai
pegangan Syariah bagi umatnya. Dan Allah SWT maha Mengetahui juga sesuatu
yang akan datang ketika Beliau sudah wafat meninggalkan Shahabat dan umatnya
sehingga Allah SWT menjadikan mentaqdirkan para Imam
Imam dan Ulama’ Salaf yang sudah diakui dan diikuti kebanyakan umat
Islam dapat menerangkan Syari’ah Rasulullah pada umat sesuai dengan bahasa,
tradisi dan budayanya masing masing dan mereka menulis dalam kitab kitab yang
banyak dipelajari dipondok pesantren salafiyah. Sedangkan Rasulullah
menerangkan Syariah dizamannya memakai bahasa dan budaya
Arab. Hal itu tiada lain karena sifat akram Allah.
Mengulang-ulang membaca Al-Quran Surat Al-Alaq dapat menimbulkan penafsiran baru,
pengembangan gagasan, dan menambah kesucian jiwa serta kesejahteraan batin. Berulang-ulang
"membaca" Asmaul-Husna membaca alam
raya, maka dapat membuka tabir rahasianya dan
memperluas wawasan serta menambah kesejahteraan lahir. Al-Quran
S Al-Alaq yang kita baca dewasa ini tak
sedikit pun berbeda dengan ayat Al-Quran yang dibaca Rasulullah saw dan generasi terdahulu. Alam raya pun demikian juga, namun pemahaman, penemuan rahasia, serta limpahan
kesejahteraan-Nya terus berkembang, dan itulah pesan yang dikandung dalam Iqra'
wa Rabbukal akram (Bacalah dan Tuhanmu yang paling Pemurah). Atas kemurahan-Nyalah
kesejahteraan demi kesejahteraan tercapai. Sungguh, perintah membaca merupakan
sesuatu yang paling berharga yang pernah dan dapat diberikan kepada umat
manusia. "Membaca" dalam aneka maknanya adalah syarat pertama dan
utama pengembangan ilmu dan teknologi, serta syarat utama membangun peradaban.
Semua peradaban yang berhasil bertahan lama, justru dimulai dari satu kitab
(bacaan).
Kita bisa kenal ma’rifah pada
Allah, menyadari jati diri hakikat dan Napak Tilas Nabi menjalankan kehidupan lewat
syir’ah dan minhaj para Ulama’ dan guru tiada lain karena jasa tuntunan Baginda
Rasulullah Muhammad SAW, yang telah diajari Allah SWT dengan Al-Quran. Yang mana Al-Quran itu sebagai
akhlaq dan syariah baginda Rasulullah Muhammad SAW. Beliau mengajarkan
akhlak dan syariah kepada sahabatnya. Kemudian para sahabat mengajarkan akhlak dan syariah kepada para
tabiin (pengikut sahabat), dan para tabiin mengajarkan akhlak dan syariah kepada
tabiit tabiin (pengikut para tabiin). Dan pada saat itu pendapat dan pemahaman
sangat banyak sekali bermunculan di mana-mana, sehingga cukup membuat resah
kaum muslimin, bahkan pernah terjadi peristiwa yang memilukan dengan terjadinya
peperangan dan pertumpahan darah hanya karena adanya perbedaan pendapat atau
aqidah seperti Tragedi Karbala dan lain lainnya.
Namun Alhamdulillah tidak lama
kemudian bermunculan para Ulama dan Imam seperti Imam Syafi’i, Imam Maliki,
Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Ghazali dan Imam Ulama lainnya, mereka membuat
beberapa terobosan minhaj/metode penerangan Syariah Islam diantaranya yang
terkenal dengan bahasa istilah (Syariat Thoriqot Hakikat Ma’rifat dll,
penggalian dari S.Al-Alaq) serta menerbitkan kitab dan membuat beberapa
kumpulan Thariqat, sehingga mulai hilanglah keresahan umat saat itu. Baru
kemudian Islam kembali berkembang dan menyebar hampir ke seluruh dunia sehingga
ajaran Islam bisa sampai ke tanah Nusantara yang disebarkan oleh para Wali dan
Sunan. Setelah wafatnya para Wali dan Sunan diteruskan oleh para ulama, kyai,
dan guru sehingga bisa sampai pada kita ajaran akhlaq dan Syariah Islam
yang di ajarkan oleh baginda Rasulullah Muhammad SAW.
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَي
شَرِيْعَةٍ مِنَ اْلاَمْرِفَاتَّبِعْهَاوَلاَ تَتَّبِع أَهْوَآءَ الَّذِيْنَ لاَ
يَعْلَمُوْنَ إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ الله شَيْئًا وَإِنَّ الظَّالِمِيْنَ
بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْض وَاللهُ وَلِيُّ اْلمُتَّقِيْنَ
Artinya: ”Kemudian Kami jadikan
kamu (Muhammad) berada diatas suatu syariah (peraturan) dari urusan (agama)
itu, maka ikutilah syariah itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang
yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak
dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang
zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah
adalah pelindung orang-orang yang bertaqwa (menjaga Syariah agamanya)“. (Q.S.Al-Jaatsiyah: 18).
Al-Quran juga pernah menegaskan
bahwa para nabi telah pernah diangkat janjinya untuk percaya dan membela Nabi
Muhammad SAW. "Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi, 'Sungguh apa saja yang Aku berikan kepadamu
berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang
membenarkan kamu, niscaya kamu sungguh-sungguh akan beriman kepadanya dan
menolongnya. Allah ber-firman, Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku
yang demikian itu? Mereka menjawab, Kami mengakui.
(QS Ali'Imran 3: 81).
Dalam hal ini, Nabi Muhammad SAW.
bersabda, "Demi Allah yang jiwaku berada pada genggaman-Nya, seandainya
Musa a.s. hidup, dia tidak dapat mengelak dan mengikutiku" (HR Imam
Ahmad).
Perjalanan dakwah Rasulullah dalam
menyampaikan ajaran Islam berjalan dengan tahapan-tahapan atau etape dakwah. Di
mulai dari Mekkah kemudian baru keMadinah dengan rentan waktu dalam penelitian
sejarah berkisar 23 tahun lamanya. Setelah itu pasca dakwah beliau dilanjutkan
oleh Khulafaur Rasyidin dan akhirnya Islam terus berkembang ke penjuru dunia.
Namun demikian, penyebaran dakwah ini juga mengalami beberapa warna semisal
para sahabat yang ditugaskan ke daerah-daerah lain menyebarkan dakwah mempunyai
corak-corak tersendiri disesuaikan
dengan tingkatan ilmu yang dimilikinya. Akibatnya bisa kita lihat dari
bermunculannya madzhab dalam islam. Namun, hal ini tidak patut kita
perselisihkan karena Islam telah
menghargai perbedaan dalam kemampuan sesorang,
terlebih para Imam mazhab juga telah bersepakat tidak mustahil dari pendapatnya
ada kekurangan. Belakangan yang menjadi persoalan di kalangan umat adalah
mereka terkotak-kotak dengan fanatisme mazhab sehingga merasa paling benar dan
suka menyalahkan pendapat orang lain, dan tak jarang mereka tidak mau menyapa
sekalipun sesama muslim. Ini adalah kekeliruan besar dan patut dihindari. Para Ulama’ dan kyai
juga harus terus berupaya menyampaikan kepada umat mengenai bahaya yang akan
dihadapi umat Islam yang terpecah-pecah. Hal
ini akan memudahkan orang lain untuk menghancurkan Islam.
Banyak ajaran, thoriqoh dan aliran dan pendapat yang berkembang di tengah masyarakat yang
beraneka ragam dan kadang kadang mereka merasa paling benar dan hebat. Kalau
kita perhatikan dan cermati perselisihan, perbedaan ajaran dan pendapat yang
runcing tak tarselesaikan yang menghawatirkan juga memprihatinkan saat ini, tiada lain karena adanya beberapa faktor yang jadi
penyebab utama, diantaranya adalah:
1-Adanya kepentingan pribadi yang semu yang bisa
mengalahkan kebenaran Syariah dan kepentingan umat demi kepentingan uang dan
drajat, pengakuan atasan atau masyarakat. Pendapat yang karena
kepentingan pribadi seperti itu bisa menjadikan pendapat itu tergantung pada
pendapatan, tergantung seberapa pendapatan uang atau materi dan seberapa
pendapat dan pengakuan atasan atau masyarakat. Penyakit kepentingan seperti itu
jika tidak segera dibasmi sangat beresiko bagi orang yang terjangkit penyakit
itu sendiri dan masyarakat, artinya bisa beresiko bagi pribadinya sendiri di
dunia serta bisa bertentangan dengan hukum Allah,
hukum alam dan hukum negara, di samping itu
juga akan menimbulkan penilaian negatif terhadap Islam di
masyarakat non muslim.
2-Adanya egosentrisme, pendapat yang dilandasi dengan
harga diri yang tinggi seperti itu bisa menimbulkan keputusan pendapat
yang mengacaukan nilai kebenaran
syariah. Artinya sifat ini harus dijauhi karena sejatinya merupakan racun
berbahaya dan dapat menyesat kan umat. Orang yang memiliki egosentrisme merasa
bahwa dirinyalah yang paling utama dan
pendapatnya tidak bisa diganggu gugat, ia merasa paling tahu dan mengerti pada
seatiap persoalan. Padahal, manusia itu mempunyai keterbatasan masing-masing
yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT. Orang yang mempunyai sifat
egosentrisme disebabkan kedangkalan fikirannya dan sesungguhnya hati mereka tertutupi oleh nafsu dan terbawa arus bisikan setan.
3-Adanya
adat kebiasaan yang
melekat dengan lemahnya dasar yang
benar dari konsep wahyu. Pendapat atas adat kebiasaan yang tidak diteliti dan
dilandasi dengan dasar benar dari konsep wahyu, hanya mengandalkan hitungan
perkiraan adanya atau katanya orang, orang tua dan orang dahulu saja. Jika
kebiasaan adat tidak tepat ini dibiarkan menjalar bisa menjadikan timbulnya
beberapa pendapat banyak sekali, karena banyaknya hitungan perkiraan yang
kurang jelas, dan hanya berdasarkan pada nukilan kata orang tua dan orang
dahulu tanpa ada upaya penelusuran lebih dalam lagi. Kalau sudah demikian akan
menimbulkan dampak yang sangat negatif. Yaitu kebingungan dan keresahan umat
karena banyaknya pendapat dan nantinya bisa menjadikan nilai kebenaran Syariah
agama yang sempurna dihadapan umat menjadi kacau.
Untuk mengurangi kenyataan banyaknya
pendapat yang seperti itu tidak ada jalan lain kecuali menggali, menelaah,
mengokohkan dan menekuni lagi Dasar Konsep Doktrin Wahyu dari Dzat Yang Maha
Tahu dan Maha Benar yaitu firmanNya
Al-Quranul-Karim. Allah SWT sudah mengingatkan :
اَفَلاَيَتَدَبَّرُونَ
اْلقُرأنَ اَوَلَوْكَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ الله لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا
Artinya: Apakah mereka tidak
memperhatikan Quran?
Kalau kira nya Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka menemukan
perselisihan pendapat yang banyak. (An Nisa’
ayat 82).
Banyaknya perselisihan atau ikhtilaf
pendapat yang merebak di tengah
masyarakat saat ini, menurut keterangan ayat di atas tidak boleh
dianggap sesuatu yang biasa, akan tetapi harus dihindari dan dicarikan
solusinya dengan dialog dan musyawarah yang fair dan terbuka. Sudahkah pendapat
itu tepat dan benar adanya menurut asas dasar didalam Al-Qur’an ? Maka dari itu perlu kita kembali memperhatikan Al-Qur’an
wahyu pertama dalam Q S. Al-Alaq yang artinya: Bacalah dan Tuhanmu yang
Dermawan yang mengajar dengan pena.
Ayat di atas Allah SWT memerintahkan
untuk membaca serta memperhatikan Al-Quran sebagai tapak tilas syariah baginda
Rasulullah Muhammad SAW, juga menerangkan pada sifatNya yang mulya, dermawan,
berarti Allah SWT sudah memberi isyarat akan memberikan sesuatu yang tak
terduga saat baginda Rasulullah Muhammad SAW menerima wahyu. Hadirnya Al-Quran yang di perjelas
pengajarannya dengan hadits dalam menuntun arah hidup manusia merupakan suatu nikmat
yang sangat besar dan tak ternilai harganya. Untuk menjaga keselamatan dari
kesesatan, hendaknya kita melakukan tapak tilas syariah Nabi, kita perlu
berupaya menghafal dan mempelajari kedua-duanya. Sebab pada zaman dahulu
orang-orang non muslim juga sudah berupaya keras untuk mengubah tulisan dan
makna dari kedua kitab tersebut. Ada banyak ribuan hadist palsu yang pernah
beredar, begitu juga ada penafsiran-penafsiran
Al-Quran yang tidak menggunakan
aturan aturan sebagaimana ulama terdahulu menyepakatinya. Ancaman adanya pemalsuan ini harus terus kita waspadai agar kita terhindar
dari fitnah yang menyelewengkan ajaran dinullah ini. Guna mendapat kekuatan
agar kita bisa terus istiqamah mengamalkan dan berdakwah di jalan Islam maka
kita juga perlu memperbanyak membaca solawat dan salam pada baginda Rasulullah
Muhammad s.a agar kita
dapat syafaatnya, sebagai harapan pada Allah SWT dapat menjalankan syariah-Nya
dengan tepat dan benar. Dan juga sebagai perwujudan menjalankan bagian siratan
dari suratan ayat di atas yang menjadi asas agama Islam ke tiga. Pengingatan Allah SWT dalam firmanNya:
اِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اََيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikatnya
membacakan sholawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bacakanlah sholawat dan salam kepada beliau. QS.Al-Ahzab : 56
Dalam hal ini Al-Quran surat Alam
Nasyrah ayat 4 menyatakan, "Sesungguhnya Kami pasti akan meninggikan
namamu." Dalam ayat lain dinyatakan: "Wahai seluruh manusia, telah
datang kepada kamu bukti yang
sangat jelas dari Tuhanmu, dan
Kami telah menurunkan cahaya (Al-Quran) yang terang benderang " (QS .Annisa'174).
Al-Quran mengakui secara tegas bahwa
Nabi Muhammad SAW. memiliki akhlak yang sangat agung. Ada beberapa sifat Nabi
Muhammad s.a. yang
ditekankan oleh Al-Quran, antara lain, "Sesungguhnya telah datang kepadamu
seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu (umat
manusia), serta sangat menginginkan kebaikan untuk kamu semua, lagi amat tinggi
belas kasihannya serta penyayang terhadap orang-orang mukmin" (QS
Al-Taubah 9: 128). Begitu luas rahmat dan kasih sayang yang dibawanya, sehingga
menyentuh manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk makhluk tak bernyawa.
Sejarah hidup Nabi Muhammad SAW. Membuktikan bahwa beliau menghimpun dan
mencapai puncak keempat macam manusia tersebut. Karya-karyanya, ibadahnya, seni
bahasa yang dikuasainya, serta pemikiran-pemikirannya sungguh mengagumkan
setiap orang yang bersikap objektif. Karena itu pula seorang Muslim akan kagum
berganda kepada Beliau, sekali
pada saat memandangnya melalui kacamata ilmu dan kemanusiaan, dan kedua kali
pada saat memandangnya dengan kacamata iman dan agama.
Baginda
Nabi Muhamad s.a.w adalah figur bagi muslimin yang wajib diperhatikan dan
diikuti contohnya didalam menjalankan Syari’ah, napak tilas Nabi dengan belajar
syariah kepada Ustad Kyai Ulama’ yang benar (Mursyid) dan dibarengi sering
membaca shalawat dan salam pada Nabi Muhammad agar ingat pada syariahnya dan mampu
menjalankan karena mendapatkan syafaat dari Beliau
Senang
membaca shalawat dan salam dibarengi belajar Syariah Rasulullah pada Ulama’
adalah merupakan proses awal revolusi total. Ketika mayoritas umat warga Negara
sudah berpegang teguh pada Syari’ah aqidah prilaku yang baik dan benar maka
otomatis mereka memilih dengan tulus pemimpinnya dan pejabat yang baik dan
benar. Dan pilihannya pasti mampu menciptakan beberapa hikmah kebijakan dan
undang undang yang tepat, baik dan benar juga. Sehingga dapat terwujud
berjalannya Sila yang ke tiga: Kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmah kebijakan dalam permusyawatan perwakilan. Dan
tidak akan muncul lagi warga negara, pemimpin, wakil rakyat dan pejabat
brengsek yang hanya menuruti hawa nafsu, mengutamakan kepentingan pribadi atau
kelompoknya dengan membangun persekongkolan dalam ekonomi dan politik yang
kotor sehingga arah bangsa yang sangat diharapkan warga negaranya tidak jelas,
liar dan menjadi runyam, tidak terkendali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar