REVOLUSI MENTAL
اِقْرَاْبِاسْمِ
رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَق
Bacalah dengan nama Tuhanmu
yang menciptakan.
Sebetulnya konsep إقرأ suat Al-Alaq itu adalah doktrin
yang tidak boleh ditawar-tawar lagi. Dengan kalimah Iqro’ menunjukkan perintah
pada Baginda Rasulullah, agar disampaikan pada umatnya berupa perintah membaca.
Sebagai umat wajib mengikutinya sebagai asas pertama menjalankan syariah agama
Islam. Pengertian atau pemahamannya adalah perintah belajar membiasakan
membaca pujian nama, sifat dan af’al Allah SWT dan tidak merasa tertekan
sehingga lambat laun bisa meresap dalam hati dan menjadi manusia yang ingat
pada Tuhannya, kemudian bisa mengagungkan-Nya dan mereka merasa hina dan lemah
dihadapanNya, akhirnya bisa menumbuhkan rasa taat, patuh, tunduk, takut dan
pasrah kepadaNya. Hakikat pertama Al-Quran yang diterima oleh Rasulullah
s.a inilah yang terus mengawal perasaannya, mengawal lidahnya, mengawal
tindak-tanduknya di sepanjang hidup. Dan inilah ulasan bagian awal dari surah
ini, sedangkan bagian lainnya adalah jelas diturunkan selepasnya. Ia
mengisyaratkan kepada beberapa situasi dan peristiwa yang berlaku dalam sirah
Rasulullah s.a pada masa-masa kebelakangan yaitu selepas beliau diperintah
menyampaikan da’wah dan mendirikan ibadat solat secara terang-terangan. Untuk
umat Islam saat ini teruskan ibadah yang sudah dilakukan seperti shalat akan
tetapi jangan sampai lupa taati perintah Allah membaca Asmaul-Husna.
Nama
Tuhan itu Allah, dan Dia mempunyai Nama yang bagus yaitu, Asmaul-Husna yang
menunjukkan pada Sifat sifat Nya. Dan Sifat sifat Allah SWT itu menunjukkan
pada Af’alNya atau pekerjaanNya. Faham makna Asmaul-Husna maupun masih belum
faham, maka agar tetap Iqro’ bacalah dan terus belajar. Demikian itu merupakan
ketaatan pada petunjuk Allah dalam FirmanNya. Juga merupakan proses awal
revolusi mental yang wajib dilakukan setiap umat manusia, sehingga mereka dapat
dikategorikan manusia yang mulai ‘kenal kepada Tuhannya (arif billah), sehingga mereka dapat mengakui hidupnya ada
Tuhan yang menghidupkan dan meyaqini bahwa Tuhannya itu namanya Allah yang
disembah dan ditaati. Dan
tidak akan ada rasa ketaatan dan kesadaran menyembah kepada Allah, ketika belum
(ma’rifah) kenal kepada Tuhan yang disembahnya. Andaikan ada
rasa berat atau tidak mau taat kepada Allah SWT, maka tiada lain karena belum
atau kurang adanya kenal kepadaNya. Dan dapat dikategorikan ‘arif kepada Allah
SWT ketika sudah tahu nama-namaNya yang bagus, sifat-sifatNya yang maha Suci,
maha Luhur dan pekerjaanNya itu tanpa ada persekutuan dengan siapapun dan tidak
ada yang dapat menandingiNya.Dan didalam sifat-sifat manusia
itu ada bayangan Sifat-sifat Allah. Begitu juga wujud ruh manusia yang gaib itu
memberi
kita sedikit pemahaman sebagai alat untuk mempermudah memahami tentang wujud Allah yang
Absolut. Keberadaan
Allah dan ruh itu tidak kelihatan namun
ada, tidak bisa dibagi-bagi atau dipecah-pecahkan,
tidak tunduk kepada ruang dan waktu, diluar kemampuan kuantitas (jumlah)
dan kualitas, dan tidak bisa diperkirakan dengan bentuk, warna atau ukuran. Maka hendaknya memakai hati dan
kenyataan indera manusia itu tidak akan mampu menemukan. Sebagaimana telinga kita tidak dapat megenal
warna, dan mata kita tidak dapat mengenal bunyi, maka begitu jugalah mengenal
Ruh dan Allah itu bukanlah dengan memakai indera. Allah
itu adalah Pemerintah alam semesta raya ini. Dia tidak tunduk kepada ruang dan
waktu, kuantiti dan kualiti, dan Dia
menguasai segala makhluknya. Begitu juga ruh itu memerintah tubuh dan semua anggota manusia.
Ia tidak bisa dilihat, tidak bisa dibagi-bagi atau dipecah-pecahkan dan tidak
tunduk kepada tempat tertentu. Membiasakan membaca pujian kepada
Allah SWT, maka lambat laun ucapan tersebut akan menjadi keyakinan iman serta
akan menjadi kekuatan yang luar biasa bagi diri manusia. Sebab didalam dirinya sudah terukir dan tertanam satu keyakinan kuat kepada
Sang Khalik yang Maha Kuat, tempat bergantungnya semua mahluk kepada-Nya. Di sebagian kalangan umat ada yang mengira dan
memahami bahwa bahasa istilah Ma’rifah itu ilmu hanya bisa di miliki oleh Waliyyullah atau
Kiyai, sebab ilmu Ma’rifah adalah ilmu yang sangat dalam dan tinggi. Tidak
sembarang orang diperbolehkan mempelajari bahkan sampai membicarakan Ma’rifah
saja tidak boleh karena bukan maqamnya. Pemahaman atau pendapat perkiraan
seperti ini kurang tepat dan kurang sesuai dengan petunjuk awal atau konsep awal
dari Allah SWT yang termaktub dalam surah Al Alaq (Iqro’), Imam Ghozali dalam
muqaddimah Kitab Bidayatul Hidayah dan beberapa kitab Tauhid seperti Sarhul
Aqidah Thohawiyah justru banyak menyinggung betapa pentingnya kita memahami
Ilmu Ma’rifah. Lewat ilmu ini
akan membantu manusia memahami jati dirinya dihadapan Sang Khaliq. Jadi jelaslah bahwa wajib
hukumnya bagi manusia, terlebih bagi orang muslim belajar ilmu Ma’rifah untuk
mengenal pada Allah SWT sebagai Dzat yang tunggal. Lewat membaca dan menghafal nama-nama, sifat-sifat dan pekerjaan Nya dapat terukir dan tertanam kuat dalam memori otaknya. Maka hal
tersebut akan mengarahkan manusia pada suatu jalan yang benar dan bersih sesuai
dengan fitrahnya (asal muasal manusia diciptakan-Nya).
Begitulah anjuran yang seharusnya kita amalkan dalam belajar ma’rifah mengenal Tuhan Allah SWT dan Tauhid. Maka bila diri kita membaca dahulu Asma’ul Husna, sifat sifat Tuhan Allah yang berjumlah 20 dan pekerjaan-Nya, maka pemahaman terhadap ilmu ma’rifah akan mudah terbuka dan disanalah sesungguhnya manusia akan mulai mengenal betapa hidup ini tidak akan berarti bila tanpa mengenal Tuhan. Imam Thohawi pernah mengatakan dalam kitab Syarhul ‘Aqidah Thohawiyah:
Begitulah anjuran yang seharusnya kita amalkan dalam belajar ma’rifah mengenal Tuhan Allah SWT dan Tauhid. Maka bila diri kita membaca dahulu Asma’ul Husna, sifat sifat Tuhan Allah yang berjumlah 20 dan pekerjaan-Nya, maka pemahaman terhadap ilmu ma’rifah akan mudah terbuka dan disanalah sesungguhnya manusia akan mulai mengenal betapa hidup ini tidak akan berarti bila tanpa mengenal Tuhan. Imam Thohawi pernah mengatakan dalam kitab Syarhul ‘Aqidah Thohawiyah:
اَوَّلُ مَا يَجِبُ هُوَ
مَعْرِفَةُ الإِلَهِ
Artinya:
Awal kewajiban bagi setiap manusia yaitu mengenal Tuhannya.
Dan tidak bisa di katakan orang itu
kenal Tuhan kalau ia tidak mengetahui nama sifat dan pekerjaan Tuhan. Sebagai contoh, kalau kita
sudah kenal Tuhan, maka kita akan mudah selalu ingat kepada-Nya. Dalam
kehidupan sehari hari kita bisa terapkan bahwa diri kita ingat terhadap
seseorong bilamana kita sebelumnya mengenal atau pernah kenal dengan orang
tersebut. Adapun bila kita sama sekali tidak pernah mengenalnya maka sangat
mustahil bagi kita untuk bisa mengingatnya. Membaca berulang-ulang dan menghafal serta memahami asma’ wassifat waaf’alullah akan
menambah Ma’rifah dan membuat pikiran manusia akan jernih dan lapang.Amaliah membaca Asmaul Husna itu bisa menjadikan suatu
alat untuk membersihkan diri dari fikiran-fikiran jahiliah dan mengobati
fikiran yang resah serta bingung atau setres seperti yang banyak melanda pada
umat manusia saat ini. Mengobati
penyakit fikiran diotak sangat jauh berbeda dengan mengobati penyakit
Jasmaniah. Penyakit Jasmaniah akan sangat mudah diobati dengan resep atau obat
dari dokter lewat hasil pemeriksaan sebelumnya. Sementara itu, penyakit fikiran
atau kesalahan akal manusia yang menolak ajaran ilahiah akan lebih sulit
mengobatinya. Sebab penyakit fikiran semacam ini tidak mudah
dideteksi seperti penyakit jasmani, di butuhkan terapi secara khusus lewat orang-orang
tertentu yakni orang shalih atau para ulama yang punya kedekatan kuat dengan
Allah sebagai Tuhan yang Maha ber-Kehendak. Dan Dialah Sang Penciptanya Allah
Robbul alamin yamg mampu mengobatinya, sementara selain-Nya tidak akan
mungkin mampu mengobati jika tidak ada izin dari- Nya. Maka dari itu Allah SWT
perlu kita rayu dan kita panggil sendiri dengan menyebut atau membaca nama
sifat dan pekerjaa-Nya lewat Asmaul Husna, dengan berulang-ulang, sehingga
mendapat tanggapan dari-Nya kasih sayang dan pertolongan-Nya, kemudian Dia
berkenan membersihkan dan mengobati penyakit fikiran yang diderita. Dan akhirnya, otak akal fikiran menjadi
sehat dan terarah bisa ma’rifat kepada Allah S WT. Ketika
manusia ingin kenal ma’rifah pada Tuhannya maka taati dan praktekkan parintah-Nya
yang pertama, mudah, terarah dan pasti yaitu, Firman-Nya Iqro’ ,,Bacalah
Asmaul-Husna dilisan dahulu dan jangan hanya diangan angan dan dibatin,,.
Praktek ini merupakan suatu bacaan yang standart dalam tafsir Iqro’ qauliyah
ayat 1 Surat Al-Alaq terlebih dahulu wajib dilakukannya. Faham makna Asmaul-Husna maupun masih belum faham, maka agar tetap dibaca dan terus belajar. Ini merupakan proses awal revolusi mental dengan mengenal Allah, Ma’rifah
nama sifat dan karya Tuhan Sang Pencipta. Cepat/lambat membaca
dan pujian itu bisa menjadi pencuci otak yang kotor. Selanjutnya baru ada perubahan positif, terlihat
wujudnya harapan kedua orang tua. Bahkan harapan sesepuh, seperti para Ulama’
dan pahlawan pendiri bangsa kepada semua umat, yaitu warga negara: ber-Ketuhanan
yang maha Esa. Jikalau sudah ber-Ketuhanan, percaya adanya Allah SWT maka
mereka mulai sadar menjalankan perintah Allah dan menjahuhi laranganNya. Dan ada tradisi yang sangat
berbahaya, manusi membuat dan mengakui tuhan tuhanan selain Allah SWT. Seperti,
bekerja dan meyaqini uang itu kuasa, uang adalah segala galanya, uang dapat
menentukan hukum jabatan serta kebahagiaan. Uang bisa menandingi dan
mengalahkan kekuatan dan kekuasaan Allah. Subhanallah Allahu Akbar, Allah Maha
Agung Tuhan yang Maha Esa dan Maha Kuasa. Tradisi tadi ketika sudah
menjadi budaya dan tidak disadari
akibatnya maka dapat menjerumuskannya kelembah kenistaan, kehinaan dan
kesengsaraan didunia bahkan diakhirat, sehingga sampai masuk penjara dan masuk
neraka. Na’udzu billahi min dzalik. Sebenarnya uang hanyalah sekedar sarana
pengganti dari sebagian kebutuhan hidup manusia yang semu dan terbatas. Hidup
manusia diperintah Allah agar mengikuti petunjuk-petunjukNya, berusaha mengalir
taat dan ikhtiyar, artinya: memilih pekerjaan yang baik serta mampu modal dan
pikirannya, juga mereka dapat melakukan. Pekerjaan dan hasil itu adakalanya
sesuai dengan keinginan manusia dan adakalanya tidak sesuai keinginan mereka.
Allah Arrazaq yang menentukan nasib pekerjaan apa yang diberikan atau
dipinjamkan kepada mereka, dan seberapa rizqi yang diberikan Allah kepadanya.
Berarti manusia tidak dapat memaksakan dan menentukan sendiri. Jadi manusia
tidak beda seperti halnya robot yang tak punya daya kemampuan apa apa, ia hanya
mengikuti remot kehendak yang empunya. Kalau sudah memahami demikian, baru
mereka menjadi manusia bermental baja, tidak mudah terpengaruh oleh godaan
gemerlapnya duniawi
dan rayuan syetan yang menyesatkan, mereka kuat mentalnya, tidak goyah tetap
tenang dan terarah. Bila demikian
maka mereka akan kembali menjadi manusia yang
fikirannya bersih sesuai dengan fitrahnya. Manusia yang mengenal terhadap Sang
penciptanya, maka akan membentuk pribadi sebagaimana yang dicontohkan Nabi
Muhammad SAW. Dan didalam S Al-Alaq terdapat susunan yang cukup selaras
di antara bagian bagiannya dan cukup teratur dalam penyusunan hakikat hakikat
yang di-bicarakannya selepas bagian awal. Dan menjadikan keseluruhan surah ini
satu unit yang padu dan rapat hubungannya. Mereka
tidak terpengaruh oleh tradisi zaman Jahiliyah modern saat ini yang merusak
mental.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar