Selasa, 17 Januari 2017

Tafsir Iqro’ Surat Al-Alaq

Tafsir Iqro’ S. Alaq
Kalimah Iqro’ yang populer disaat ini dibuat metode belajar pemula membaca Qur’an juz 1-6. Dan ada yang menafsirkan hanya: Bacalah alam. Tafsiran itu tidak salah akan tetapi tidak tertib dan hanya sepotong, sehingga sangat sedikit umat yang dapat memafahami. Sedangkan didalam kitab kitab Tafsir, kalimah Iqro’ surat Al-Alaq banyak tafsirannya akan tetapi ma’nanya bersekutu (musytarokah). Maka dari itu umat Muhammad wajib mempelajari makna kalimah Iqro’ Al-Alaq dan mempraktekkannya dengan kemampuan maksimal yang ada.
Agar tidak bias pemahamannya mudah dipraktekkan keterangan kitab kitab tafsir maka Iqro’ S Al-Alaq dibagi menjadi tiga bagian:
1-Iqro’ Qauliyah. Keterangan kitab Tafsir Jalalain dan  kitab yang setara: Wujudkan bacaan (huruf dan suaranya) dipermulaan. Standart bacaan: Asmaul Husna, istighfar, shalawat dan do’a.)            
2-Iqro’Kauniyah. Keterangan Kitab Tafsir Showi dan kitab kitab yang setara: Bacalah dan fahami (bacaan iqro’ qauliyah) serta bertafakkur pada kejadian wujud alam semesta, agar bertambah faham dan yaqin pada wujud Allah SWT sehingga bertambah patuh kepadaNya.     
3-Iqro’ Fi’liyah. Keterangan kitab Tafsir Kabir dan kitab kitab yang setara: Baca dan kerjakan petunjuk Allah dalam Al-Qur’an sehingga menjadi manusia yang patuh dan pasrah sebab Dialah yang memiliki dan pasti kembali kepadaNya. Dan manusia hidup didunia itu sudah menerima perjanjian dari Allah di alam ruh, ketika mereka masih berupa bibit sperma. Mereka sudah menyaksikan bahwasanya Allah itu  Tuhannya, sehingga mereka lahir didunia dalam keadaan fitrah.
Dengan adanya kejelasan dan ma’na Iqro ’ S. Al-Alaq dalam kitab tafsir begitu banyak namun mustarakah (bersekutu) maka Allah SWT memberi petunjuk keleluasan pada syir’ah (praktek) dan minhaj (metode) yang disesuaikan dengan budaya qaum (umat) agar mudah diterima dan dipraktekkan    
Allah berfirman di ayat 4 S.Ibrahim:,, Dan Aku (Allah) tidak mengutus Rasul (dan penerus perjuangannya) kecuali dengan lisan (bahasa, rasa, tradisi, budaya) kaumnya agar dia dapat menjelaskan (agama) kepada mereka,, dan ayat 48 surat Al-Maidah: ,,Dan Aku (Allah) buatkan setiap umat diantara kamu sekalian syir’ah (praktek) dan minhaj (metode),,  Maka mengajarkan Islam pada ayat ayat tertentu, praktek (syir’ah) dan metode (minhaj) bisa berobah sesuai dengan budaya, bahasa, tempat dan zamannya. Namun harus tetap pada inti materi Firman dan tidak boleh keluar dari rana hukum syariah. Tidak semua syir’ah dan minhaj tabi’in, Imam Imam, para Sunan Ulama’ Saleh sama persis seperti yang dilakukan oleh Rasulullah. Dalam mengajarkan Iqro’ surat Al-A’laq pada masyarakat pribumi dengan “Iqro’ Ma’rifah” dalam mengenalkan Tuhan dan fungsi Tauhid kepada masyarakat dengan mengadakan lantunan-lantunan pujian yang menyentuh hati, para Sunan dan Ulama’ Shalih penyiar agama Islam pertama di Jawa membudayakan membaca pujian atau kidungan menggunakan bahasa daerah dan bahasa Arab seperti bacaan “Allah wujud, Qidam, Baqo’, dst.yang dilakukun sebelum shalat, belajar, mengaji, mengajar dan lain lain. Dan Rasulullah s.a.w tidak pernah pujian memakai bahasa Jawa atau bahasa Indonesia, Beliau hanya berbahasa Arab dan memakai minhaj (metode) budaya Arab.
S Al-Alaq pada zaman sunan ada yang menyamarkan dengan nama “Kitab Adam Makno” hal ini mereka lakukan agar orang Jawa bisa menerimanya. Makna kata ,,Kitab,, maksudnya adalah petunjuk, sementara kata ,,Adam,, bermakna manusia pertama yang diciptakan Allah. Kata ,,Makno,, mempunyai arti yang luas. Jadi Kitab Adam Makno itu:  Petunjuk awal dasar yang punya banyak arti, seperti Iqro’ S Al-Alaq. Kemudian diteruskan para pahlawan pendiri bangsa, membuat asas negara Pancasila juga mengambil dari butir butir surat Al-Alaq. Ketika asas agama Islam S. Al-Alaq dikaitkan dengan asas Negara Pancasila, butir butirnya ada hubungan dan kesamaan. (Cobalah kembali memperhatikan Asas Islam Standat Nusantara Indonesia. S.N.I).
Dan saat ini diangkatan Kepolisian sudah mulai membudayakan Iqro’ membaca Asmaul-Husna, untuk menguatkan sila kesatu Pancasila Ketuhanan yang maha Esa, namun masih kurang sempurna jika belum ditambah membaca istighfar shalawat dan do’a. Adakah aparat dan pejabat yang lain mau melakukannya sebagai contoh rakyatnya? Ketika menginginkan perobahan yang cepat. Sebetulnya hal itulah yang harus dilakukan dan tidak cukup hanya mengatur hukun, politik, ekonomi dan itu itu saja. Ketika Pancasila tidak diikrarkan, dipraktekkan bersama maka tunggu kesuksesan setelah ada unta bisa masuk dilubang jarum.   

Tantangan

Tantangan
كَلَّا اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغي اَنْ رَاهُ اسْتَغْنَى اِنَّ اِلى رَبِّكَ الرُّجْع
Ingat, sesungguhnya manusia itu pengecut. Ketika melihat dirinya merasa cukup. Sesungguhnya kepada Tuhanmulah kamu kembali.
Diriwayatkan didalam beberapa kitab tafsir, Baginda Rasulullah Muhammad saw awal dijadikan rasul mendapatkan wahyu surat Al-Alaq Iqro’. Setelah itu tidak ada wahyu lagi sampai 3 th. Dan ada yang meriwayatkan 10 th. Beliau bermukim di Mekkah selama 13 th. Dan Beliau diancam akan dibunuh orang kafir Mekkah, kemudian Allah memerintahkan kepada Beliau agar berhijrah kekota Madinah.
Riwayat ini salah satu tanda bukti yang menunjukkan bahwa betapa beratnya Beliau berjuang dan berjuang menyampaikan wahyu dari Allah SWT surat Al-Alaq Iqro’ pada orang Mekkah dan sekitarnya. Mereka banyak yang menolak, tidak faham, inkar, merekayasa, melawan dan menantang. Bahkan diantara mereka ada yang menyakiti dan mendzaliminya lahir dan batin. Mereka mereka yang tidak faham dan inkar itu bukan orang yang bodoh, bahkan orang yang cerdas dan terhormat diantara mereka. Seperti Abu Jahal paman Rasulullah sendiri, dia itu bukan orang bodoh, dia cerdas. Dan dia bukan orang hina bahkan dia termasuk orang terhormat.  Dia dijuluki Abu Jahal karena dia orang yang egois sombong dan pengecut, dia tidak mau menerima kenyataan yang ada, walaupun toh otaknya menerimanya bahwa: Nabi Muhammad itu utusan Allah SWT dan Firman Allah yang disampaikan itu benar. Akan tetapi hati Abu Jahal tertutup dan dia tetap kufur menolaknya.
Cerita sifat Abu Jahal yang amat ego pengecut dan sombong pada kebenaran ini hendaknya tidak sampai menular. Dan belum bisa dikatakan satria pewaris perjuangan Rasulullah yang tangguh kalau belum pernah ada orang yang inkar, merekayasa, melawan dan menantangnya.
Ketika otak manusia hanya terisi ilmu dzahir dan ilmu pengetahuan duniawi yang maju dan canggih dan tidak pernah diukir dengan bacaan nama nama Allah SWT yang bagus (Asmaul-Husna), dan hatinya gelap karena dosa dan sifat tercela yang menyelimuti dan otaknya berjalan sendiri sudah tidak menyatu dengan hati nurani, kemudian prilakunya tak terkendali hanya mengikuti hawa nafsunya sendiri maka itu tanda bahwa mereka sudah keluar dari jalur hidup yang sejati (sebenarnya) dan cepat-cepatlah kembali pada petunjuk Allah Surat Al-Alaq dan buktikan dengan membaca dan membaca pasti dijamin Allah SWT, mendapatkan petunjuk hidayahNya, ra.
Dan jangan sampai ada yang berani mencoba coba FirmanNya, apa lagi seperti Abujahal. Mau apa, kemana dan kepada siapa lagi mereka kembali hidup didunia ? Adakah mereka akan hanya seperti itu itu saja?. Akankah mereka mencari solusi pada selain Firman Allah yang terbatas dan bahkan ada juga yang bias ?.  Jawaban yang tepat, ketika ingin lebih cepat, tiada lain kembali memperhatikan dan mempraktekkan pada Firman Allah dimulai dari 1qro’ Surat Al-Alaq sebagai fondamen atau rumus asas agama Islam serta hadis Nabi dan belajar kepada Ulama’ pewaris perjuangan Nabi saw dan Kyai Ustadz yang ahli dan benar (Mursyid).

Begitupun suatu bangsa, ketika uang itu sudah dijadikan tuhan alat kepentingan dan kekuasaan, dan mereka membiasakan kebiadaban dan kepemihakan sesama warga negara, dan memecah belah demi kepentingan, kemudian tidak ada takut melanggar hukum dianggap suatu kebiasaan karena punya persekongkolan bisa ringan bahkan bebas. Maka itu suatu pertanda bahwa tidak akan lama lagi bangsa itu akan hancur berantakan jikalau tidak cepat kembali (bak to basic} pada asas Pancasila sejati dengan sungguh-sungguh dipraktekkan, tidak hanya dibangga banggakan dan ditampilkan sebagai hiasan.  

SOLUSI SUKSES

                                    Solusi Sukses                                      
عَلَّمَ الاِنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَم 
Maka Dia mengajarkan manusia  pada sesuatu yang belum ia ketahui.
Tidak ada seorangpun umat manusia hidup ingin gagal dalam hidupnya atas apa yang diharapkan dan dicita-citakan, pasti ingin berhasil bahkan mencapai kesuksesan, sukses didunia dan akhirat, jasmani dan rohani serta lahir dan batin. Adapun segala sesuatu yang di lakukan akan bisa sukses membuahkan hasil maka perlu dibuktikan akal logika secara nyata. Walaupun kelihatannya seperti logis tetapi ketika tidak produktif membuahkan hasil yang tepat dan sempurna berarti tidak logika, artinya cara menggunakan logikanya ngawur. Seharusnya menggunakan logika yang benar itu seperti hitungan aljabar atau matematika sederhana 7x7 = 49 10+3=13. Seandainya ada hitungan 10-3=15 atau 77:10=10 itu tidak tepat  berarti menyalahi kaidah2 dasar hukum aljabar (ilmu pasti). Jikalau dianggap logis akan tetapi tidak logika, tidak membuahkan hasil yang tepat dimungkinkan metode mengerjakan dalam ilmu aljabar atau matematika kesalahan rumus atau orang yang menghitung itu sendiri ada suatu gangguan pada saraf-saraf otak di karenakan saraf mereka tersumbat gumpalan darah, entah gagar otak atau karena lainnya, seperti minum yang mengandung alkohol atau sabu-sabu sehingga mabuk. Ketidak tepatan dalam hasil hitungan dikarenakan ada gangguan saraf seperti itu tidak boleh merubah rumus hukum kaidah ilmu pasti melainkan orang tersebut perlu berobat kedokter jika perlu direhabilitasi ulang untuk belajar atau kuliah lagi.
Dizaman modern banyak umat manusia yang hidupnya disibukkan dan menyibukkan diri dalam urusan pekerjaan dan uang, uang dan pekerjaan sehingga otak mereka lupa pada kewajibannya hidup beribadah mengabdi kepada Allah Dzat yang Menghidupkan, bahkan sampai lupa mereka hidup butuh makan akan tetapi lupa makan atau tidak enak makan dikarenakan sibuk pekerjaan.
Ketika orang hidup ingat dan sadar ada Dzat yang Menciptakan dan Dzat yang  Menghidupkan, tidak hidup dengan sendirinya dan tidak lupa kuwajiban kuwajiban ikhtiyar memilih pekerjaan yang baik dan benar kemudian mereka mau mengerjakannya pasti hidupnya jelas terarah dan selamat, tentram dan tenang walaupun toh hidupnya sederhana dan mereka pasti dapat kebahagian didunia dan akhirat. Sebab hidupnya terasa ringan tidak sendirian, sudah ada Dzat yang Menguasai, Memberi rizqi, Mengasihi dan Dzat yang Menolong dan Dzat yang Dipasrahi dan Dzat yang Menanggung, jadi hidup hanya tinggal mengalir dan menjalani saja.
Akan tetapi ketika orang hidup merasa hidup sendiri tidak ada Dzat yang Menciptakan dan Dzat yang Menghidupkan dan Dzat yang Menguasai, Memberi rizqi, Mengasihi dan Dzat yang Menolong dan Dzat yang Dipasrahi dan Dzat yang Menanggung, walaupun mereka memiliki harta titipan Allah SWT kemudian mereka tidak sadar, hanya menuruti hawa nafsu yang menggebu-gebu maunya sendiri pasti hidupnya resah kurang terarah bahkan tidak mau diingatkan jika salah arah sehingga bisa terjerumus pada kehinaan dan keselamatannya hidup didunia dan akhirat. Naudzu billahi mindzalik. Maka dari itu sebelum menentukan dan melakukan apapun dalam hidup ini perlu dipikir dan dipertimbangkan matang matang supaya seimbang lahir dan batin, bisa merasakan kesempurnaan hidup sesuai dengan dasar aturan hidup dari Dzat yang Menghidupkan. Sebab hidup umat manusia itu pasti ada aturan, kalau kehidupan tidak ada aturan itu berarti kehidupan hewan yang tidak punya akal pikiran. Allah berulang kali mengingatkan dalam FirmanNya:
Allah berulang kali mengingatkan umat manusia dalam Firman-Nya:
افلا تتفكرون Apakah engkau tidak berpikir?      
افلا تعقلون    Apakah engkau tidak berpikir dengan akal yang sehat?     
افلا يتبرون   Apakah mereka tidak berpikir yang dalam?         
 افلايتذكرون  Apakah mereka tidak mengingat contoh sejarah yang sudah berlalu, 
seperti  sejarah Nabi-Nabi, Sahabat, Tabi’in, Tabiit tabi’in, Ulama’ Salaf, Sunan dan Ulama’sholeh dalam menerapkan agama? Didalam kalimah-kalimah tadi Allah SWT mengingatkan kita agar berpikir berulang kali tidak boleh gegabah agar mau memperhatikan sunatullah dan ciptaanNya yang merupakan tanda kekuasaanNya yang pasti dan nyata, serta memperhatikan FirmanNya sehingga mengenal Allah dan memahami bahwa aturan agama Allah itu adalah ilmu pasti, logis dan logika supaya masuk dalam golongan ulil-albab (manusia berakal sehat) akhirnya mempunyai prinsip dan aqidah kuat dan terarah prilakunya dijalan Allah SWT.
Dan manusia Ulil Albab ini mampu membaca pertanda alam serta memahami gejala-gejala terjadinya suatu peristiwa tertentu yang tidak dapat difahami oleh umumnya manusia yang hanya mengandalkan rasio nalitas kerja otaknya saja.
Begitu pentingya kita perlu menyadari tentang peran penting dari fungsi akal dan otak kita yang terarah dan mendapatkan pentunjuk ilahi sebab, bila kita telusuri lebih lanjut ternyata ada sangkut pautnya dengan terjadinya kemerosotan dan kebobrokan mental dan moral manusia yang tidak lain disebabkan karena memori simpanan otaknya tidak ada sama sekali ukiran nama-nama sifat Tuhan Allah SWT. Dan yang ada hanya ilmu pengetahuan yang mengandalkan pendekatan materialistik, dan nafsu duniawai sehingga kerja otak yang demikian itu tidak ada henti-hentinya hanya memikirkan kepuasan sesaat yang berdampak pada rusaknya mental dan moral dan hilangnya etika manusia.
Sistem kerja otak manusia yang terjerumus penuh dengan nafsu duniawi, sesungguhnya akan berdampak dalam kehidupan sehari hari, dimana manusia tersebut akan mengalami ketersiksaan batin dan tidak akan mampu merasakan nikmat hidup yang sebenarnya. Maka untuk mengembalikannya mereka pada kefitrahannya adalah memperbaiki dan mendalami ilmu pengetahuan yang mengenalkan pada nama sifat dan pekerjaan Allah sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.
Manusia bila hanya mengisi ilmu yang mengandalkan rasionalitas akal, mereka akan mengalami ketimpangan dalam menjalani hidup. Dengan demikian maka diperlukan keseimbangan lewat ilmu Ad-din yakni ilmu agama yang menjelaskan tentang perlunya manusia mengerti bahwa Allah SWT itu ada, Yang Menciptakan, Menguasai, Mengatur yang harus ditaati dan disembah.
Diantara umat Islam ada yang kelihatan mereka sudah menjalankan beribadah sejak kecil namun sukar berkembang mutu ibadahnya, bahkan cenderung merosot. Hal itu mungkin saja dikarenakan banyaknya pikiran dan tanggung jawab duniawi yang ia rasakan dan pada akhirnya lupa terhadap peningkatan kualitas amal ibadahnya. Memang hidup itu penuh perjuangan yang tiada habisnya, hal ini akan terus dirasakan manusia hingga Malaikat Izroil selesai mencabut Ruh yang dikandung badan untuk dikembalikan kepada Allah Sang Maha Pencipta. Banyak sekali permasalahan manusia hidup yang harus di kerjakan dan diperjuangkan dan juga harus dipertanggung jawabkan. Mulai pagi hari kita dituntut untuk bekerja atau mengatur suatu urusan sampai pada siang harinya atau bahkan hingga larut malam, mereka masih disibukkan dengan pekerjaan hanya ingin menumpuk uang dan harta untuk keperluan keluarga.
Mungkin ada pertanyaan, mengapa keadaan  dunia  ini  makin  hari  semakin memprihatinkan, mencari pekerjaan sulit, harga barang terus naik melambung setinggi langit, namun nilai akhlak dan iman manusia makin hari semakin merosot tidak bisa naik naik, sukar diperbaiki dengan segala cara dan metode apapun masih belum juga berhasil ?. Banyak manusia yang sudah tidak punya malu dan tidak takut berbuat kesalahan, kemaksiatan dan kejahatan dihadapan manusia yang terlihat dan disaksikan sesama manusia dianggap biasa, apalagi pada Tuhan sang Pencipta alam Allah Rabbul alamin yang Maha Gaib. Apa penyebabnya? Jawabannya: Tiada lain karena manusia tidak tahu dan tidak mau memperhatikan atau tidak mengenal konsep program awal wahyu Ilahi (Iqro’), sehingga dalam hidup mereka tidak punya pegangan yang kuat atau landasan yang kokoh. Sebenarnya mempelajarin dan melakukannya sangat mudah tidak berat bagi siapapun.
Allah SWT Dzat yang menyayangi pada hambanya mengutus rasul dengan konsep yang mudah, tidak mempersulit dan memperberat pada hambaNya dalam menggapai hidayah atau petunjuk benar, karena hal tersebut disesuaikan dengan kemampuan hambanya. Namun kebanyakan manusia menginginkan kontan pada sesuatu yang ada hubungannya dengan masalah duniawi  Kadang manusia itu dalam menggapai petunjuk atau kebenaran dengan menanti tanpa usaha. Hal ini merupakan suatu pendapat yang keliru. Ibarat orang yang ingin buah kelapa tapi tidak mau memanjatnya tapi hanya menungguinya di bawah pohon. Yang penting mau belajar dan mengkaji konsep progam awal wahyu Ilahi IQRO’ dahulu. Pasti nanti akan menemukan pada suatu petunjuk benar, visi misi dan manfaat yang luar biasa. Jika manusia sudah mendapatkan petunjuk serta bimbingan dari Allah SWT yang benar maka manusia pasti tegak dan tegar menjalankan syariah Nabi Nya dalam hidup dan kehidupan di dunia ini, sehingga tidak berani menentang hukum Allah SWT. Dan tiada manusia yang dapat mempengaruhi bahkan setanpun tak akan mampu menggoda mereka dan menyesatkannya.                      
Allah SWT berfirman :                                                                                                    
وَمَنْ يَهْدِ اللهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ                                                                                 
Artinya : Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah , maka tidak seorangpun yang bisa menyesatkan. (Q S.Az- zumar A: 37 ).
Kemudian Allah SWT memerintahkan malaikat untuk mendampingi kita dan mengawasi setiap langkah. Malaikat menurut bahasa istilah orang Jawa dari peringatan para Sunan dahulu (ojo lali dulur papat limo pancer), maksudnya “Jangan lupa pada Malaikat yang jadi dulur (saudara) sesama mahluq ciptaan Allah SWT yang selalu mendampingi menusia”.
1-Malaikat Hafidz/penjaga dalam jiwa manusia 
  اِنْ كُلّ نَفْسٍ لَمَّاعَلَيْهَاحَافِظٌ                                                                                        
Artinya: Tiada suatu jiwapun melainkan ada penjaganya.
2-Malaikat Roqib/pencatat amal  yang baik
3-Malaikat Atid/pencatat amal yang buruk
 مَايَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ                                                                                 
Artinya: Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada didekatnya  (pengawal) Malaikat Roqib Atid (S Qoof Ayat 18).                            
4-Malaikat Muaqqibat/pengawal di depan
5-Malaikat Muaqqibat/pengawal di belakang 
 لَهُ مُعَقِّبَتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُوْنَهُ مِنْ اَمْرِاللهِ 
ARtinya : Bagi manusia ada Malaikat Malaikat yang selalu mengikuti bergantian dimuka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah (S. Arro’du :11).
Dengan keterangan ayat di atas, merupakan khabar gembira bagi umat manusia hidup didunia, terutama mereka yang sudah mendapatkan jaminan petunjukd-Nya, Allah telah memberi malaikat yang selalu mendampingi dan menjaga. Hal tersebut perlu disyukuri dengan beriman dengan adanya malaikat itu, dan bersikap baik pada mereka dengan cara menyampaikan bacaan salam terhadap mereka pada waktu menutup sholat fardhu mau pun sunnah. Sehingga bisa menambah iman pada Malaikat dan gaul dengan mereka. Sebagai orang muslim bukan hanya bisa kenal dengan pejabat konglomerat dapat dikategorikan orang gaul, justru mereka yang kenal pada Malaikat, gaul dengannya sering menyapanya dan berkomunikasi dengannya, menyampaikan salam ditutupan shalat dan saat saat tertentu ketika diperlukan.  
Ada kabar gaib yang cukup mengejutkan, yaitu banyaknya Malaikat dahulu ramah tamah dan peduli pada umat Islam justru sekarang banyak sekali yang acuh taacuh, mereka begitu tidak peduli, mereka membiarkan umat Islam terjerumus dan terlantar karena banyak umat Islam yang acuh taacuh, kurang percaya pada adanya Malaikat Hafadzoh/penjaga dirinya yang sudah ditugaskan oleh Allah SWT. Bukti, banyak umat Islam kurang gaul enggan dan malas menyapa dengan menyampaikan salam pada mereka saat membaca salam diakhir shalat ferdhu atau sunah. Entah lupa atau tidak mengerti. Kaum muslimin banyak beranggapan bahwa membaca salam diakhir shalat itu dianggap hanya penutup shalat saja. Sedangkan salam itu  merupakan rukun shalat sebagai do’a dan sapaan pada Malaikat yang mendapinginya sebagai petugas dari Allah SWT agar menjaga dan mengawasi manusia. Dan salam itu salam kepada sesama muslimin seandainya ada yang shalat disekitarnya. Ketika manusia mendoa-kan dengan menyampaikan salam dan menyapa pada Malaikat pasti Malaikat membalas mendoakan dan menyapanya. Karena Malaikat itu mempunyai akal seperti manusia pasti mereka membalas dan memperhatikannya, tidak acuh tak acuh.
Dan ada kabar ghaib lagi, percaya boleh seandainya tidak percaya tidak apa-apa, tidak dosa sebab bukan rukun Iman namun kabar ini hanya suatu kemungkinan (minal mumkinat). Bahwa dinegara yang  warganya matrialistis, orentalis kapitalis dan tidak yaqin adanya Tuhan yang maha Esa, syetan disana berbondong-bondong imigrasi ke-Indonesia sebab dinegara sana tidak ada pekerjaan sama sekali, mereka pengangguran. Persoalannya warganya sudah menjadi teman baik penghuni neraka sehingga tidak usah digoda dan dikerjain. Namun setelah berada di Indonesia ternyata mereka kembali merasa kecewa lagi, karena jarang juga ada kesempatan pekerjaan diIndonesia sehingga iblis kepala setan pusing kuwalahan mengatur setan-setan yang berkumpul diIndonesia. Tidak sedikit setan imigran berdemo unjuk rasa minta pansiun dini. Walaupun warga Indonesia mayoritas muslim dan terbanyak sedunia banyak yang kurang ber-Ketuhanan yang Maha Esa dan tidak sedikit warga Indonesia yang terperangkap pendapat: bahwa uang itu kuasa, akibatnya diantara mereka banyak masuk penjara karena menipu dan korupsi untuk menumpuk uang dan sampai tidak menghiraukan hak dan penderitaan orang lain.
Mengerjakan perintah Allah SWT Iqro’: Bacalah, dengan mengawali  membudayakan membaca pujian Asmaul Husna, istighfar, shalawat kemudian berdo’a, maka Allah menjamin memberi Hidayah pada manusia yang mereka belum ketahui. Allah SWT perintah memakai kalimah fi’il amar: iqro’ kemudian jawabnya memakai fi’il madhi: ‘allama yang berarti jaminan pasti. Mereka hidup pasti berjalan pada petunjuk yang benar.
Ketika mayoritas umat Islam warga negara Indonesia sudah:
1-     Bermental baja karena Ma’rifah kenal dan ingat Nama, Sifat dan Pekerjaan Allah dengan rutin membaca Asmaul-Husna dan belajar memahaminya serta bersih dan terarah otak pikirannya kemudian pelan-pelan mampu menjalankannya sehingga ber Ketuhanan yang maha Esa, dan tidak mau mengedepankan uang yang maha kuasa.
2-     Bermoral baik karena sadar pada Haqiqah jati dirinya dengan rutin membaca sayidul istighfar sampai hatinya bersih dari dosa dan sifat tercela sehingga  ber Kemanusiaan yang adil dan beradab dan tidak menjadi manusia yang korup dan biadab.
3-     BerTauhid menyatukan Allah SWT karena ingat Allah dan sadar jati diri. Dan mereka menyadari bahwa semua manusia sama sama ciptaan Allah yang menginginkan hidup damai berdampingan bersatu dalam kebinekaan sehingga berusaha menegakkan Persatuan Indonesia, dan tidak mendirikan persatuan profokator Indonesia.
4-     Menjalankan syari’at napak tilas Nabi Muhamad saw dengan belajar dan meniru Ulama’ Shalih serta sadar pada hukum  Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawatan perwakilan dan mereka tidak hanya menuruti hawa nafsunya sendiri, melanggar hukum sehingga muncul Kerakyatan yang dipimpin oleh nafsu jahat persekongkolan dalam kekuasaan
5-     Maka mereka pasti mendapatkan Hidayah dan hadiyah dari Allah SWT, wujudnya cita cita Ulama’ pahlawan Nusantara dan pejuang bangsa yang sangat ditunggu tunggu oleh seluruh rakyat, yaitu sukses: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Selanjutnya tidak muncul lagi kemiskinan dan keresahan melanda rakyat  Indonesia. Mereka hidup damai, rukun dan bahagia karena mereka sudah merasakan keadilan sosial, kemakmuran dan kesejahteraan yang merata.
Akhirnya tidak menutup kemungkinan bahwa bangsa kita Indonesia nanti akan menjadi Mercu Suar Dunia, sebagai contoh bangsa bangsa di seluruh dunia.


REVOLUSI TOTAL

Revolusi Total
اِقْرَاْوَرَبُّكَ اْلاَكْرَمُ الَّذِي عَلَّم بِالْقَلم 
Bacalah dan Tuhanmu Pemurah mengajarkan dengan pena
Allah SWT mengulangi firmanNya اِقْرَا  dengan memperkokoh dalam satu surat dua kali. Jadi kita manusia sebagai hambaNya, hendaknya memahami betapa pentingngnya kita harus membaca membaca dan membaca yang membutuhkan waktu dan ketekunan disiplin ilmu. Dan tidak sekedar membaca dan pokoknya sudah membaca. Apa yang dibaca? Terus bagaimana?. Kemudian Allah SWT melanjutkan FirmanNya:  وَرَبُّكَ اْلاَكْرَمُ Dan Tuhanmu Pemurah / Mulia / Dermawan. Minta atau tidak minta Allah memberi, Allah maha Pemurah dan maha Mengetahui sesuatu yang dibutuhkan Rasulullah saat masih hidup sebagai utusan sehingga Beliau diberi dan diajari Al-Qur’an yang ditulis dengan pena الَّذِي عَلَّم بِالْقَلم di daun kurma, kulit, batu dll sebagai pegangan Syariah bagi umatnya. Dan Allah SWT maha Mengetahui juga sesuatu yang akan datang ketika Beliau sudah wafat meninggalkan Shahabat dan umatnya sehingga Allah SWT menjadikan mentaqdirkan para Imam Imam dan Ulama’ Salaf yang sudah diakui dan diikuti kebanyakan umat Islam dapat menerangkan Syari’ah Rasulullah pada umat sesuai dengan bahasa, tradisi dan budayanya masing masing dan mereka menulis dalam kitab kitab yang banyak dipelajari dipondok pesantren salafiyah. Sedangkan Rasulullah menerangkan Syariah dizamannya memakai bahasa dan budaya Arab. Hal itu tiada lain karena sifat akram Allah.
Mengulang-ulang membaca Al-Quran Surat Al-Alaq dapat menimbulkan penafsiran baru, pengembangan gagasan, dan menambah kesucian jiwa serta  kesejahteraan batin. Berulang-ulang "membaca" Asmaul-Husna membaca alam raya, maka dapat membuka tabir rahasianya dan memperluas wawasan serta menambah kesejahteraan lahir.   Al-Quran S Al-Alaq yang kita baca dewasa ini tak sedikit pun berbeda dengan ayat Al-Quran yang dibaca Rasulullah saw dan generasi terdahulu. Alam raya pun demikian juga, namun pemahaman, penemuan rahasia, serta limpahan kesejahteraan-Nya terus berkembang, dan itulah pesan yang dikandung dalam Iqra' wa Rabbukal akram (Bacalah dan Tuhanmu  yang paling Pemurah). Atas kemurahan-Nyalah kesejahteraan demi kesejahteraan tercapai. Sungguh, perintah membaca merupakan sesuatu yang paling berharga yang pernah dan dapat diberikan kepada umat manusia. "Membaca" dalam aneka maknanya adalah syarat pertama dan utama pengembangan ilmu dan teknologi, serta syarat utama membangun peradaban. Semua peradaban yang berhasil bertahan lama, justru dimulai dari satu kitab (bacaan).
Kita bisa kenal ma’rifah pada Allah, menyadari jati diri hakikat dan Napak Tilas Nabi menjalankan kehidupan lewat syir’ah dan minhaj para Ulama’ dan guru tiada lain karena jasa tuntunan Baginda Rasulullah Muhammad SAW, yang telah diajari Allah SWT dengan Al-Quran. Yang mana Al-Quran itu sebagai akhlaq dan syariah baginda Rasulullah Muhammad SAW. Beliau mengajarkan akhlak dan syariah kepada sahabatnya. Kemudian para sahabat  mengajarkan akhlak dan syariah kepada para tabiin (pengikut sahabat), dan para tabiin mengajarkan akhlak dan syariah kepada tabiit tabiin (pengikut para tabiin). Dan pada saat itu pendapat dan pemahaman sangat banyak sekali bermunculan di mana-mana, sehingga cukup membuat resah kaum muslimin, bahkan pernah terjadi peristiwa yang memilukan dengan terjadinya peperangan dan pertumpahan darah hanya karena adanya perbedaan pendapat atau aqidah seperti Tragedi Karbala dan lain lainnya.
Namun Alhamdulillah tidak lama kemudian bermunculan para Ulama dan Imam seperti Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Ghazali dan Imam Ulama lainnya, mereka membuat beberapa terobosan minhaj/metode penerangan Syariah Islam diantaranya yang terkenal dengan bahasa istilah (Syariat Thoriqot Hakikat Ma’rifat dll, penggalian dari S.Al-Alaq) serta menerbitkan kitab dan membuat beberapa kumpulan Thariqat, sehingga mulai hilanglah keresahan umat saat itu. Baru kemudian Islam kembali berkembang dan menyebar hampir ke seluruh dunia sehingga ajaran Islam bisa sampai ke tanah Nusantara yang disebarkan oleh para Wali dan Sunan. Setelah wafatnya para Wali dan Sunan diteruskan oleh para ulama, kyai, dan guru sehingga bisa sampai pada kita ajaran akhlaq dan Syariah Islam yang di ajarkan oleh baginda Rasulullah Muhammad SAW.
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَي شَرِيْعَةٍ مِنَ اْلاَمْرِفَاتَّبِعْهَاوَلاَ تَتَّبِع أَهْوَآءَ الَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ الله شَيْئًا وَإِنَّ الظَّالِمِيْنَ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْض وَاللهُ وَلِيُّ اْلمُتَّقِيْنَ
Artinya: ”Kemudian Kami jadikan kamu (Muhammad) berada diatas suatu syariah (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariah itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertaqwa (menjaga Syariah agamanya)“.  (Q.S.Al-Jaatsiyah: 18).
Al-Quran juga pernah menegaskan bahwa para nabi telah pernah diangkat janjinya untuk percaya dan membela Nabi Muhammad SAW. "Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi, 'Sungguh apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan kamu, niscaya kamu sungguh-sungguh akan beriman kepadanya dan menolongnya. Allah ber-firman, Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku yang demikian itu? Mereka menjawab, Kami mengakui. (QS Ali'Imran 3: 81).
Dalam hal ini, Nabi Muhammad SAW. bersabda, "Demi Allah yang jiwaku berada pada genggaman-Nya, seandainya Musa a.s. hidup, dia tidak dapat mengelak dan mengikutiku" (HR Imam Ahmad).
Perjalanan dakwah Rasulullah dalam menyampaikan ajaran Islam berjalan dengan tahapan-tahapan atau etape dakwah. Di mulai dari Mekkah kemudian baru keMadinah dengan rentan waktu dalam penelitian sejarah berkisar 23 tahun lamanya. Setelah itu pasca dakwah beliau dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin dan akhirnya Islam terus berkembang ke penjuru dunia. Namun demikian, penyebaran dakwah ini juga mengalami beberapa warna semisal para sahabat yang ditugaskan ke daerah-daerah lain menyebarkan dakwah mempunyai corak-corak tersendiri disesuaikan dengan tingkatan ilmu yang dimilikinya. Akibatnya bisa kita lihat dari bermunculannya madzhab dalam islam. Namun, hal ini tidak patut kita perselisihkan karena Islam telah menghargai perbedaan dalam kemampuan sesorang, terlebih para Imam mazhab juga telah bersepakat tidak mustahil dari pendapatnya ada kekurangan. Belakangan yang menjadi persoalan di kalangan umat adalah mereka terkotak-kotak dengan fanatisme mazhab sehingga merasa paling benar dan suka menyalahkan pendapat orang lain, dan tak jarang mereka tidak mau menyapa sekalipun sesama muslim. Ini adalah kekeliruan besar dan patut dihindari. Para Ulama’ dan kyai juga harus terus berupaya menyampaikan kepada umat mengenai bahaya yang akan dihadapi umat Islam yang terpecah-pecah. Hal ini akan memudahkan orang lain untuk menghancurkan Islam.
Banyak ajaran, thoriqoh dan aliran dan pendapat yang berkembang di tengah masyarakat yang beraneka ragam dan kadang kadang mereka merasa paling benar dan hebat. Kalau kita perhatikan dan cermati perselisihan, perbedaan ajaran dan pendapat yang runcing tak tarselesaikan yang menghawatirkan juga memprihatinkan saat ini, tiada lain karena adanya beberapa faktor yang jadi penyebab utama, diantaranya adalah:                    
1-Adanya kepentingan pribadi yang semu yang bisa mengalahkan kebenaran Syariah dan kepentingan umat demi kepentingan uang dan drajat, pengakuan atasan atau masyarakat. Pendapat yang karena kepentingan pribadi seperti itu bisa menjadikan pendapat itu tergantung pada pendapatan, tergantung seberapa pendapatan uang atau materi dan seberapa pendapat dan pengakuan atasan atau masyarakat. Penyakit kepentingan seperti itu jika tidak segera dibasmi sangat beresiko bagi orang yang terjangkit penyakit itu sendiri dan masyarakat, artinya bisa beresiko bagi pribadinya sendiri di dunia serta bisa bertentangan dengan hukum Allah, hukum alam dan hukum negara, di samping itu juga akan menimbulkan penilaian negatif terhadap Islam di masyarakat non muslim.
2-Adanya egosentrisme, pendapat yang dilandasi dengan harga diri yang tinggi seperti itu bisa menimbulkan keputusan pendapat yang  mengacaukan nilai kebenaran syariah. Artinya sifat ini harus dijauhi karena sejatinya merupakan racun berbahaya dan dapat menyesat kan umat. Orang yang memiliki egosentrisme merasa bahwa dirinyalah yang paling utama dan pendapatnya tidak bisa diganggu gugat, ia merasa paling tahu dan mengerti pada seatiap persoalan. Padahal, manusia itu mempunyai keterbatasan masing-masing yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT. Orang yang mempunyai sifat egosentrisme disebabkan kedangkalan fikirannya dan sesungguhnya hati mereka tertutupi oleh nafsu dan terbawa arus bisikan setan.
3-Adanya  adat  kebiasaan  yang  melekat  dengan lemahnya dasar yang benar dari konsep wahyu. Pendapat atas adat kebiasaan yang tidak diteliti dan dilandasi dengan dasar benar dari konsep wahyu, hanya mengandalkan hitungan perkiraan adanya atau katanya orang, orang tua dan orang dahulu saja. Jika kebiasaan adat tidak tepat ini dibiarkan menjalar bisa menjadikan timbulnya beberapa pendapat banyak sekali, karena banyaknya hitungan perkiraan yang kurang jelas, dan hanya berdasarkan pada nukilan kata orang tua dan orang dahulu tanpa ada upaya penelusuran lebih dalam lagi. Kalau sudah demikian akan menimbulkan dampak yang sangat negatif. Yaitu kebingungan dan keresahan umat karena banyaknya pendapat dan nantinya bisa menjadikan nilai kebenaran Syariah agama yang sempurna  dihadapan umat menjadi kacau.
Untuk mengurangi kenyataan banyaknya pendapat yang seperti itu tidak ada jalan lain kecuali menggali, menelaah, mengokohkan dan menekuni lagi Dasar Konsep Doktrin Wahyu dari Dzat Yang Maha Tahu dan Maha Benar yaitu firmanNya  Al-Quranul-Karim. Allah SWT sudah mengingatkan :
اَفَلاَيَتَدَبَّرُونَ اْلقُرأنَ اَوَلَوْكَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ الله لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا                               
Artinya: Apakah mereka tidak memperhatikan Quran? Kalau kira nya Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka menemukan perselisihan pendapat  yang banyak. (An Nisa’ ayat 82).
Banyaknya perselisihan atau ikhtilaf pendapat yang merebak di tengah  masyarakat saat ini, menurut keterangan ayat di atas tidak boleh dianggap sesuatu yang biasa, akan tetapi harus dihindari dan dicarikan solusinya dengan dialog dan musyawarah yang fair dan terbuka. Sudahkah pendapat itu tepat dan benar adanya menurut asas dasar didalam Al-Qur’an ?  Maka dari itu perlu kita kembali memperhatikan Al-Qur’an wahyu pertama dalam Q S. Al-Alaq yang artinya: Bacalah dan Tuhanmu yang Dermawan yang mengajar dengan pena.
Ayat di atas Allah SWT memerintahkan untuk membaca serta memperhatikan Al-Quran sebagai tapak tilas syariah baginda Rasulullah Muhammad SAW, juga menerangkan pada sifatNya yang mulya, dermawan, berarti Allah SWT sudah memberi isyarat akan memberikan sesuatu yang tak terduga saat baginda Rasulullah Muhammad SAW menerima wahyu. Hadirnya Al-Quran yang di perjelas pengajarannya dengan hadits dalam menuntun arah hidup manusia merupakan suatu nikmat yang sangat besar dan tak ternilai harganya. Untuk menjaga keselamatan dari kesesatan, hendaknya kita melakukan tapak tilas syariah Nabi, kita perlu berupaya menghafal dan mempelajari kedua-duanya. Sebab pada zaman dahulu orang-orang non muslim juga sudah berupaya keras untuk mengubah tulisan dan makna dari kedua kitab tersebut. Ada banyak ribuan hadist palsu yang pernah beredar, begitu juga ada penafsiran-penafsiran Al-Quran yang tidak menggunakan aturan aturan sebagaimana ulama terdahulu menyepakatinya. Ancaman adanya pemalsuan ini harus terus kita waspadai agar kita terhindar dari fitnah yang menyelewengkan ajaran dinullah ini. Guna mendapat kekuatan agar kita bisa terus istiqamah mengamalkan dan berdakwah di jalan Islam maka kita juga perlu memperbanyak membaca solawat dan salam pada baginda Rasulullah Muhammad s.a agar kita dapat syafaatnya, sebagai harapan pada Allah SWT dapat menjalankan syariah-Nya dengan tepat dan benar. Dan juga sebagai perwujudan menjalankan bagian siratan dari suratan ayat di atas yang menjadi asas agama Islam ke tiga. Pengingatan Allah SWT dalam firmanNya:
اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اََيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikatnya membacakan sholawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bacakanlah sholawat dan salam kepada beliau. QS.Al-Ahzab : 56
Dalam hal ini Al-Quran surat Alam Nasyrah ayat 4 menyatakan, "Sesungguhnya Kami pasti akan meninggikan namamu." Dalam ayat lain dinyatakan: "Wahai seluruh manusia, telah datang kepada kamu bukti yang sangat jelas dari Tuhanmu, dan Kami telah menurunkan cahaya (Al-Quran) yang terang benderang " (QS .Annisa'174).
Al-Quran mengakui secara tegas bahwa Nabi Muhammad SAW. memiliki akhlak yang sangat agung. Ada beberapa sifat Nabi Muhammad s.a. yang ditekankan oleh Al-Quran, antara lain, "Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu (umat manusia), serta sangat menginginkan kebaikan untuk kamu semua, lagi amat tinggi belas kasihannya serta penyayang terhadap orang-orang mukmin" (QS Al-Taubah 9: 128). Begitu luas rahmat dan kasih sayang yang dibawanya, sehingga menyentuh manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk makhluk tak bernyawa. Sejarah hidup Nabi Muhammad SAW. Membuktikan bahwa beliau menghimpun dan mencapai puncak keempat macam manusia tersebut. Karya-karyanya, ibadahnya, seni bahasa yang dikuasainya, serta pemikiran-pemikirannya sungguh mengagumkan setiap orang yang bersikap objektif. Karena itu pula seorang Muslim akan kagum berganda kepada Beliau, sekali pada saat memandangnya melalui kacamata ilmu dan kemanusiaan, dan kedua kali pada saat memandangnya dengan kacamata iman dan agama.
Baginda Nabi Muhamad s.a.w adalah figur bagi muslimin yang wajib diperhatikan dan diikuti contohnya didalam menjalankan Syari’ah, napak tilas Nabi dengan belajar syariah kepada Ustad Kyai Ulama’ yang benar (Mursyid) dan dibarengi sering membaca shalawat dan salam pada Nabi Muhammad agar ingat pada syariahnya dan mampu menjalankan karena mendapatkan syafaat dari Beliau
Senang membaca shalawat dan salam dibarengi belajar Syariah Rasulullah pada Ulama’ adalah merupakan proses awal revolusi total. Ketika mayoritas umat warga Negara sudah berpegang teguh pada Syari’ah aqidah prilaku yang baik dan benar maka otomatis mereka memilih dengan tulus pemimpinnya dan pejabat yang baik dan benar. Dan pilihannya pasti mampu menciptakan beberapa hikmah kebijakan dan undang undang yang tepat, baik dan benar juga. Sehingga dapat terwujud berjalannya Sila yang ke tiga: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijakan dalam permusyawatan perwakilan. Dan tidak akan muncul lagi warga negara, pemimpin, wakil rakyat dan pejabat brengsek yang hanya menuruti hawa nafsu, mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompoknya dengan membangun persekongkolan dalam ekonomi dan politik yang kotor sehingga arah bangsa yang sangat diharapkan warga negaranya tidak jelas, liar dan menjadi runyam, tidak terkendali.












REVOLUSI MORAL

Revolusi Moral
خَلَقَ اْلاِنْسَانَ مِنْ عَلَق 
       Yang menciptakan manusia dari segumpal darah
Wujud dan hidup kita manusia sama sama diciptakan Allah SWT dari sperma ayah dan ibu yang menyatu menjadi gumpalan darah dan menggantung dirahim ibu, dan tidak diciptakan dari emas atau intan permata yang indah dan mahal harganya. Diantara kita manusia terkadang tidak sadar dan lupa pada asal muasal diciptakannya. Mereka ada yang selalu membanggakan dan menonjolkan nasab suku dan bangsanya, sehingga terjebak meremehkan dan menghina yang lain sesama manusia. Bahkan ada sampai lupa pada dirinya sendiri sehingga berkata dalam hatinya pada orang lain: Siapa saya? Dan bahkan ada sampai ter-ucapkan dilisan. Bagai mana dapat mengenal dan menghargai kepada orang lain ketika belum bisa mengenal dan menyadari jati-dirinya sendiri yang jelas nyata dan kelihatan. Apa lagi mengenal pada Tuhan yang menciptakan dan wajib diagungkan. Dalam Firman Allah ayat 1 surat Al-Alaq dengan ayat 2 sangat berkaitan: Manusia dapat mengenal kepada Allah SWT ketika sudah membaca dan memahami nama sifat dan pekerjaan Nya. Dan mereka dapat mengagungkan Allah SWT ketika mereka sudah dapat mengenal dirinya sendiri dan merasa hina dihadapan-Nya. Manusia tidak dapat mengagungkan kepada Allah SWT ketika mereka masih menyombongkan pada dirinya sendiri.
Langkah pertama untuk bisa menyadari jati diri manusia harus mau merendahkan hati (tawadhu’) dan siap dengan tidak menargetkan harga tinggi dirinya dihadapan sesama manusia, sombong pada kedua orang tuanya, apa lagi pada Tuhannya. Manusia tidak akan mampu hatinya mengagungkan kepada Tuhannya ketika hatinya ada sifat sombong. Tumbuhnya hati mengagungkan karena adanya hati yang merendah. Sedangkan perintah Allah dalam S Al- Alaq yang pertama adalah manusia diwajibkan mengenal Tuhan dengan membaca nama-nama, sifat-sifat dan af’al-Nya agar kenal dan bisa mengagungkan kepada-Nya. Dan peringatan kedua agar manusia mengerti jati dirinya yang hina dan banyak dosa yang mengotorinya, sehingga manusia dapat merasa rendah hati dan sadar. Manusia hidup pasti memerlukan kebersihan diri.
Anjuran syariah supaya manusia senantiasa berada dalam keadaan bersih suci, baik secara lahir maupun batin. Kita hendaknya sadar akan kotoran dalam jiwa atau batin. Dan kotoran itu adalah dosa, sifat tercela dan kesalahan kita sendiri. Cara menyucikannya dengan taubat nasuha dengan sebenarnya taubat. Minimal minta ampun dengan membaca istighfar 70 kali atau sayidul-istighfar dan shalat sunnah awwaabin setelah shalat maghrib.
Perlu difahami bahwa manusia ini bukanlah dijadikan Allah hanya untuk senda gurau atau "sia-sia" . Tetapi mereka dijadikan oleh Allah SWT dengan 'Ajaib sekali dan untuk tujuan yang besar dan mulia.  Meskipun tubuhnya kecil dan berasal dari tanah bumi, namun Ruh atau nyawa adalah tinggi dan berasal dari sesuatu yang bersifat Ketuhanan. Apabila hawa nafsunya di bersihkan sebersih-bersihnya, maka ia akan mencapai taraf yang paling mulia diantara makhluq yang lain. Mereka tidak lagi menjadi hamba kepada hawa nafsunya sendiri yang rendah. Mereka akan lebih mulia mempunyai sifat-sifat diatas Malaikat.
Maka dari itu S Al-Alaq dengan ayat kedua sangat berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Jadi rendah hati dengan menyadari jati diri itu adalah kunci ma’rifah kenal pada Allah SWT sehingga mereka bisa mengagungkanNya. Sebagai manusia kita perlu memahami jati diri asal muasal kenyataan (Haqiqoh) tercipta dari sesuatu yang hina yaitu segumpal darah yang dikandung oleh ibu dengan beban yang sangat berat menanggungnya dan tidak ketinggalan bapakpun ikut merasakan dampak akibatnya.
Dalam perkembangannya, manusia mengalami beberapa tahapan dan perkembagan fisik maupun pemikiran dengan proses yang rumit dan panjang. Allah SWT berfirman dalam Al Quran:
وَلَقَدْخَلَقْنَا اْلاِنْسَانَ مِنْ سُلاَلَةٍ مِنْ طِيْنٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فيِ قَرَارٍ مَّكِيْنٍ. ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا اْلعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا المُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا العِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَاءْنَاهُ خَلْقًااَخَرَ فَتَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ اْلخَالِقِيْنَ.
Artinya: Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan manusia itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Berkahlah Allah, Pencipta yang paling baik. ( QS. Al- Mu’minun. 14 ).
Oleh sebab itu didalam ajaran agama Islam kita diajarkan agar kita tidak boleh lupa atas jasa orang tua ibu bapak yang telah menjaga, merawat, mengawasi dan mendidik kita mulai dari segumpal darah hingga wujud menjadi manusia sempurna. Kita wajib berbuat baik pada beliau beliau seperti halnya yang diperintahkan oleh Allah SWT dalam firmannya :
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا اِلاَّ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ اْلكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا اُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيْمًا.
Artinya : Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada Ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliha raanmu, maka sekali-kali janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka  perkataan yang mulia. (QS. Al-Isro’Ayat: 23).
Ayat di atas ini juga melarang berperilaku yang tak pantas apa lagi berbuat kasar atau membentak bentak terhadap kedua orang tua, hendaknya berbudi mulia menjadi anak. Walaupun seandainya kedua orang tua itu salah atau kurang memahami ajaran Islam. Kita harus hati hati dan berfikir, memang sudah benarkah kalau ibu atau bapak itu salah? Seandainya kalau memang sudah jelas salah, seyogyanya diingatkan dengan peringatan yang halus dan baik dan selalu memintakan ampunan dan petunjuk kepada Allah SWT.
Tidak ada hal yang melebihi diri sendiri. Jika tidak kenal diri sendiri, bagaimana bisa mengetahui hal-hal yang lain. Sebagian dari pada sifat-sifat manusia adalah bercorak kebinatangan. Sebagian pula bersifat Iblis dan sebagian pula bersifat Malaikat. kita hendaklah tahu sifat yang mana perlu ada, dan yang tidak perlu ada. Jika kita tidak tahu, maka tidaklah kita tahu dimana letaknya kebahagiaan itu. Kerja binatang ialah makan, tidur dan berkelahi. Jika kita hendak jadi binatang, berbuatlah seperti itu saja. Iblis dan syaitan itu sibuk hendak menyesatkan manusia, pandai menipu dan berpura-pura. Kalau hendak seperti iblis itu, lakukan sebagaimana kerja mereka itu. Malaikat sibuk dengan memikir dan memandang Keindahan Ilahi. Mereka bebas dari sifat-sifat kebinatangan. Jika ingin bersifat seperti sifat KeMalaikatan, maka berusahalah menuju asal muasal itu agar dapat mengenali dan menuju pada Allah Yang Maha Tinggi dan bebas dari belenggu hawa nafsu. 
Namun setelah kita amati dan kita rasakan kenyataan kita semakin tambah hari, tambah bulan, tambah tahun dan tambah umur bukannya kita tambah bersih, suci (resik) melainkan kita tambah kotor dengan nafsu dan dosa. Merasa hina kenyataan jati diri yang berlumuran dosa, akan membuat diri bersikap santun pada sesama, lebih-lebih terhadap kedua orang tua. Mohon ampun dan memohonkan ampunan kepada Allah untuk kedua orang tua adalah suatu bagian perwujudan kita mengerti keberadaan kita yang lahir ke dunia atas jerih payah orang tua yang ikhlas memelihara dan memberikan kasih sayangnya pada kita. Kesadaran tersebut berarti masuk pada memperhatikan peringatan Allah SWT dalam surah Al-Alaq yang artinya: Dia telah menjadikan manusia dari segumpal darah (di kandungan ibu)
Proses penciptaan manusia yang teramat rumit untuk dicermati  dengan akal manusia sesungguhnya menandakan bahwa hanya dengan kebesaran kekuasaan Allah SWT manusia akan bisa lahir kebumi. Untuk menambah menyadarkan kenyataan keadaan hakikat kita maka penting memperhatikan lagi firman Allah SWT:
وَفيِ اَنْفُسِكُمْ اَفَلاَتُبْصِرُونَ وَفيِ السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَاتُوعَدُونَ
Artinya: Dan di dalam dirimu apakah engkau tidak memperhatikan ? Dan dilangit (ada ketetapan) rizqimu dan sesuatu yang dijanjikan kepadamu (QS. Ad-Dzariyat 22-23).
Ayat di atas mengingatkan agar memperhatikan apa yang ada dalam diri kita, sesuatu yang paling penting dan berperan dalam diri hidup, yaitu nafas. Kita bisa bernafas dengan baik dan nikmat apa bila hidung berlubang dapat menghirup udara oksigen dengan gratis tanpa membayar, sedang kalau dirumah sakit oksigen itu cukup mahal harganya. Dan betapa nikmatnya lagi kalau kita mau memperhatikan dan merasakan nafas yang sudah diatur iramanya oleh Allah SWT, seandainya kita selalu mengikutinya. Dan kita akan merasakan kurang nyaman kalau  nafas ini ditahan perlahan-lahan atau dipercepat dengan tidak sesuai pada irama ketentuan Allah, apa lagi dihentikan. Irama nafas manusia adalah hukum qudroti Allah yang harus diikuti.
Wujud nafas dihidung itu karena adanya peran dorongan paru-paru ciptaan Allah SWT. Paru-paru bergerak karena adanya dorongan jantung. Jantung bergerak karena adanya dorongan dari darah. Darah bergerak dan berfungsi karena ada roh, tanpa ada roh yang menyatu dengan jasad maka organ manusia tidak bisa berfungsi, berarti manusia mati. Dan yang menyatukan dan memisahkan jasad dengan roh itu adalah Allah SWT.
Banyak manusia yang tidak sadar bahkan lupa pada dirinya sendiri, mereka wujud diwujudkan, hidup dihidupkan, bernafas sudah ada yang mengatur irama nafasnya, manusia hidup hanya tinggal mengalir mengikutinya.
Coba kita berhenti sejenak dahulu membaca buku ini, buktikan dan amati nafas yang keluar masuk dihidung 1 - 3 menit saja, ikuti iramanya dan rasakan kemudian syukuri!. Pasti kita akan menemukan rasa nikmatnya bernafas yang berarti rasa itu nikmatnya hidup yang dihidupkan Allah yang maha Kasih dan Sayang.
Bismillah Subhanallah Alhamdulillah, sungguh benar Allah Maha Kasih Sayang pada manusia. Mau bersyukur pada nikmat Allah tidah usah menunggu dapat makan makanan yang lezat, bisa naik mubil yang mewah, bertempat tinggal dirumah mewah dan menunggu mempunyai uang banyak.     
Maka Nabi saw pernah bersabda: "Allah itu sayang kepada hamba hambanya melebihi dari sayang seorang ibu kepada anaknya". Demikianlah Allah SWT terhadap manusia makhluk yang dijadikan-Nya, manusia bisa tahu tentang wujud Allah, dari keajaiban tubuhnya, ia dapat tahu tentang Kekuasaan Kasih Sayangnya dan Kebijaksanaan  Allah dan dari kurnia nikmat Allah yang tidak terbatas itu, nampaklah Cinta Allah SWT kepada hamba-Nya.
Apakah tidak disadari bahwa Allah SWT itu sangat pemurah dengan memberi pada kita oksigen dengan gratis? maukah kita bersyukur? Dan belum lagi pemberian yang lain, seperti lidah yang bisa merasakan nikmatnya gurih, manis, asin, pedas dan lain lain dengan peralatan komponen yang lebih canggih dari pada robot yang canggih. Apalagi jika menghitung pemberian nikmat yang di berikan oleh Allah SWT rizki, setiap hari masih bisa makan dan minum dll, sungguh sukar kita menghitungnya. Allah SWT sudah berfirman :
وَاِنْ تَعُدُّوْانِعْمَتَ اللهِ لاَتُحْصُواهَااِنَّ اْلاِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ. سورة ابراهيم. اية .34
Artinya: Dan jika kamu menghitung ni’mat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Dan sesungguhnya manusia itu sangat dzolim dan sangat mengingkari (ni’mat Allah).
Bagaimanakah seandainya Allah SWT mulai mengurangi atau mangambil nikmat dengan datangnya rasa sakit ?  Rumah, kendaraan, istri, makanan dan minuman mulai tidak bisa dinikmati dengan maksimal. Bisakah manusia  menghalangi pada kehenda-Nya? Jelas ini tidak akan bisa dihalang. Allah SWT yang Menciptakan, yang Berkuasa dan Berkehendak apa saja. Kita manusia lemah tidak kuasa apa apa, hina penuh noda dan dosa. Kita hanya diperintah ikhtiar memilih usaha dan menjalaninya. Tidaklah pantas bagi kita manusia yang melupakan pada nikmat-Nya, tidak bersyukur dan ingkar sombong hidup di dunia sesama makhluq dan kedua orang tua, apa lagi kepada Tuhannya, tidak mau memohon ampunan-Nya dan bertaubat kepada-Nya.
Bertaubat tidak usah menunggu sakit atau datangnya usia tua dan menunggu mampu memenuhi persyaratan taubat yang seharusnya lengkapi.  
Ada beberapa orang yang tidak mau taubat dan takut bertaubat karena merasa usianya masih muda dan belum bisa memenuhi persyaratan taubat. Hendaknya kita melakukan taubat itu secara jujur saja dengan kemampuan apa adanya dahulu, nanti lama kelamaan tidak terasa akan menjadi taubat nasuha. Hal tersebut lebih baik kita lakukan dari pada mengaku akan bertaubat nasuha dengan menunggu datangnya usia tua. Yang demikian itu lebih beresiko dikemudian hari karena umur tidak dapat ditebak. Sebab ibarat orang mempunyai hutang yang banyak tidak mau mencicilnya. Sebenarnya lebih baik mencicil dengan apa adanya dari pada membohongi atau tidak mencicil sama sekali, yang penting mempunyai tekad yang baik dan berusaha melunasi. Derektor Bank pada nasabahnya yang punya hutang banyak, ketika ia jujur mau mencicil apa adanya dan beriktikat baik ia masih diterima, apa lagi Allah SWT Dzat yang Maha Kasih Sayang Maha Mengetahui pada hambaNya yang masih lemah taubatnya dan Dia Dzat yang Menolong hambaNya yang masih lemah.
Dengan menyadari kenyataan jati diri hakikat yang hina penuh noda dan dosa disertai membaca istighfar bertaubat, memohon ampunan pada Allah SWT dan memohonkan ampunan pada kedua orang tua serta berbuat baik bersyukur padanya itu bisa menjadi obat pencuci hati. Hati yang bersih menurut Ibnul Qayyim merupakan cerminan baiknya akhlaq dan moral dan orang tersebut akan mampu menangkap keberadaan Allah SWT dan pesan-pesan kebaikan dari Rasul-Nya serta akan dapat memberikan energy positif yang baru bagi orang lalai.
Rasulullah saw pernah mengajarkan do’a kepada kita umatnya membaca sayidul-istighfar dan bacaan itu merupakan proses awal revolusi moral yang seharusnya dilakukan oleh semua umat manusia, untuk lebih dapat menyadari Haqiqah, kenyataan jati dirinya yang hina lemah dan banyak dosa, sehingga dapat menjadi alat pencuci hati yang kotor karena dosa dan sifat tercela. Ketika sudah rendah hati dan hatinya bersih maka wujudlah moral sila ke.2: Kemanusiaan yang adil dan beradab. Dan tidak akan muncul lagi moral warga, wakil dan pejabat yang tidak adil, sombong dan biadab dzalim terhadap sesama manusia. Ketika manusia sudah ma’rifah kenal pada keagungan nama dan sifat dan pekerjaan Allah SWT kemudian merasa rendah hati dan menyadari kenyataan jati diri Haqiqah yang hina, maka tertancaplah Tauhid, menyatukan Allah SWT. Kemudian ketika mereka sudah mampu menyatukan antara Ketuhanan dan pri Kemanusiaan, maka mereka tidak akan menemui kesulitan lagi didalam mewujudkan harapan sesepuh, Ulama’ dan pejuang pendiri bangsa, yaitu sila ketiga: Persatuan Indonesia. Selanjutnya tidak muncul lagi isu sara dan PKI Persatuan Koruptor Indonesia yang merusak sendi sendi bangsa dan persatuan. Bangsa besar yang mempunyai sumber alam yang sangat banyak, warga negaranya beraneka ragam suku, budaya, bahasa dll.