Revolusi Moral
خَلَقَ
اْلاِنْسَانَ مِنْ عَلَق
Yang menciptakan manusia dari segumpal darah
Wujud
dan hidup kita manusia sama sama diciptakan Allah SWT dari sperma ayah dan ibu
yang menyatu menjadi gumpalan darah dan menggantung dirahim ibu, dan tidak
diciptakan dari emas atau intan permata yang indah dan mahal harganya. Diantara
kita manusia terkadang tidak sadar dan lupa pada asal muasal diciptakannya.
Mereka ada yang selalu membanggakan dan menonjolkan nasab suku dan bangsanya,
sehingga terjebak meremehkan dan menghina yang lain sesama manusia. Bahkan ada
sampai lupa pada dirinya sendiri sehingga berkata dalam hatinya pada orang
lain: Siapa saya? Dan bahkan ada sampai ter-ucapkan dilisan. Bagai mana dapat
mengenal dan menghargai kepada orang lain ketika belum bisa mengenal dan
menyadari jati-dirinya sendiri yang jelas nyata dan kelihatan. Apa lagi
mengenal pada Tuhan yang menciptakan dan wajib diagungkan. Dalam Firman Allah
ayat 1 surat Al-Alaq dengan ayat 2 sangat berkaitan: Manusia dapat mengenal
kepada Allah SWT ketika sudah membaca dan memahami nama sifat dan pekerjaan
Nya. Dan mereka dapat mengagungkan Allah SWT ketika mereka sudah dapat mengenal
dirinya sendiri dan merasa hina dihadapan-Nya. Manusia tidak dapat mengagungkan
kepada Allah SWT ketika mereka masih menyombongkan pada dirinya sendiri.
Langkah pertama untuk bisa
menyadari jati diri manusia harus mau merendahkan hati (tawadhu’) dan
siap dengan tidak menargetkan harga tinggi dirinya dihadapan sesama manusia, sombong
pada kedua orang tuanya, apa lagi pada Tuhannya. Manusia tidak akan mampu
hatinya mengagungkan kepada Tuhannya ketika hatinya ada sifat sombong.
Tumbuhnya hati mengagungkan karena adanya hati yang merendah. Sedangkan
perintah Allah dalam S Al- Alaq yang pertama adalah manusia diwajibkan mengenal
Tuhan dengan membaca nama-nama, sifat-sifat dan af’al-Nya agar kenal dan bisa
mengagungkan kepada-Nya. Dan peringatan kedua agar manusia mengerti jati
dirinya yang hina dan banyak dosa yang mengotorinya, sehingga manusia dapat
merasa rendah hati dan sadar. Manusia
hidup pasti memerlukan kebersihan diri.
Anjuran syariah supaya manusia senantiasa berada dalam keadaan bersih
suci, baik secara lahir maupun batin. Kita hendaknya sadar akan kotoran dalam
jiwa atau batin. Dan kotoran itu
adalah dosa, sifat tercela dan kesalahan
kita sendiri. Cara menyucikannya dengan taubat nasuha dengan sebenarnya taubat. Minimal minta ampun dengan membaca istighfar 70 kali
atau sayidul-istighfar dan shalat sunnah awwaabin setelah shalat maghrib.
Perlu difahami bahwa manusia ini bukanlah
dijadikan Allah hanya untuk senda gurau atau "sia-sia" . Tetapi mereka dijadikan oleh Allah SWT dengan
'Ajaib sekali dan untuk tujuan yang besar dan mulia. Meskipun tubuhnya kecil dan berasal dari tanah bumi, namun Ruh atau nyawa adalah tinggi dan berasal
dari sesuatu yang bersifat Ketuhanan. Apabila hawa nafsunya di bersihkan
sebersih-bersihnya, maka ia akan mencapai taraf yang paling mulia diantara makhluq yang lain. Mereka
tidak lagi menjadi hamba kepada hawa nafsunya sendiri
yang rendah. Mereka akan lebih mulia mempunyai sifat-sifat diatas Malaikat.
Maka dari itu S Al-Alaq dengan ayat kedua sangat
berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Jadi rendah hati dengan menyadari jati
diri itu adalah kunci ma’rifah kenal pada Allah SWT sehingga mereka bisa
mengagungkanNya. Sebagai manusia kita perlu memahami jati diri asal muasal
kenyataan (Haqiqoh) tercipta dari
sesuatu yang hina yaitu segumpal darah yang dikandung oleh ibu dengan beban
yang sangat berat menanggungnya dan tidak ketinggalan bapakpun ikut merasakan
dampak akibatnya.
Dalam perkembangannya, manusia
mengalami beberapa tahapan dan perkembagan
fisik maupun pemikiran dengan proses yang rumit dan panjang. Allah SWT
berfirman dalam Al Quran:
وَلَقَدْخَلَقْنَا
اْلاِنْسَانَ مِنْ سُلاَلَةٍ مِنْ طِيْنٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فيِ قَرَارٍ
مَّكِيْنٍ. ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا اْلعَلَقَةَ
مُضْغَةً فَخَلَقْنَا المُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا العِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ
اَنْشَاءْنَاهُ خَلْقًااَخَرَ فَتَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ اْلخَالِقِيْنَ.
Artinya: Dan sesungguhnya kami
telah menciptakan manusia dari suatu sari pati (berasal) dari tanah. Kemudian
Kami jadikan manusia itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh
(rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah
itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang
belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami
jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Berkahlah Allah, Pencipta
yang paling baik. ( QS. Al- Mu’minun.
14 ).
Oleh sebab itu didalam ajaran agama
Islam kita diajarkan agar kita tidak boleh lupa atas jasa orang tua ibu bapak
yang telah menjaga, merawat, mengawasi dan mendidik kita mulai dari segumpal
darah hingga wujud menjadi manusia sempurna. Kita wajib berbuat baik pada
beliau beliau seperti halnya yang diperintahkan oleh Allah SWT dalam firmannya
:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ
تَعْبُدُوا اِلاَّ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ
عِنْدَكَ اْلكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا اُفٍّ وَلاَ
تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيْمًا.
Artinya : Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan
menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada Ibu bapakmu dengan
sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai
berumur lanjut dalam pemeliha raanmu, maka sekali-kali janganlah kamu membentak
mereka dan ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang mulia. (QS.
Al-Isro’Ayat: 23).
Ayat di atas ini juga melarang
berperilaku yang tak pantas apa lagi berbuat kasar atau membentak bentak
terhadap kedua orang tua, hendaknya berbudi mulia menjadi anak.
Walaupun seandainya kedua orang tua itu salah atau kurang memahami ajaran Islam. Kita
harus hati hati dan berfikir, memang sudah benarkah kalau ibu atau bapak itu salah?
Seandainya kalau memang sudah jelas salah,
seyogyanya diingatkan dengan peringatan yang halus dan baik dan selalu
memintakan ampunan dan petunjuk kepada Allah
SWT.
Tidak ada hal yang melebihi diri
sendiri. Jika tidak kenal diri sendiri, bagaimana bisa mengetahui hal-hal yang
lain. Sebagian dari pada sifat-sifat manusia adalah bercorak kebinatangan.
Sebagian pula bersifat Iblis dan sebagian pula bersifat Malaikat. kita
hendaklah tahu sifat yang mana perlu ada, dan yang tidak perlu ada. Jika kita tidak tahu, maka tidaklah kita tahu dimana
letaknya kebahagiaan itu. Kerja binatang ialah makan, tidur dan berkelahi. Jika
kita hendak jadi binatang, berbuatlah seperti itu saja. Iblis dan syaitan itu sibuk hendak
menyesatkan manusia, pandai menipu dan berpura-pura. Kalau hendak seperti iblis
itu, lakukan sebagaimana kerja mereka itu. Malaikat sibuk dengan memikir dan
memandang Keindahan Ilahi. Mereka bebas dari sifat-sifat kebinatangan. Jika
ingin bersifat seperti sifat
KeMalaikatan, maka berusahalah menuju asal muasal itu agar dapat mengenali dan
menuju pada Allah Yang Maha Tinggi dan bebas dari belenggu hawa nafsu.
Namun setelah kita amati dan
kita rasakan kenyataan kita semakin tambah hari, tambah bulan, tambah tahun dan
tambah umur bukannya kita tambah bersih, suci (resik) melainkan kita
tambah kotor dengan nafsu dan dosa.
Merasa hina kenyataan jati diri yang
berlumuran dosa, akan membuat diri bersikap santun pada sesama, lebih-lebih terhadap kedua orang tua. Mohon ampun dan memohonkan
ampunan kepada Allah untuk kedua orang
tua adalah suatu bagian perwujudan kita mengerti keberadaan kita yang lahir ke
dunia atas jerih payah orang tua yang ikhlas memelihara dan memberikan kasih
sayangnya pada kita. Kesadaran tersebut berarti masuk pada memperhatikan
peringatan Allah SWT dalam surah Al-Alaq yang artinya:
Dia telah menjadikan manusia dari segumpal
darah (di kandungan ibu)
Proses penciptaan manusia yang
teramat rumit untuk dicermati dengan
akal manusia sesungguhnya menandakan bahwa hanya dengan kebesaran kekuasaan Allah SWT manusia akan bisa lahir
kebumi. Untuk menambah
menyadarkan kenyataan keadaan hakikat kita maka penting memperhatikan lagi firman Allah SWT:
وَفيِ اَنْفُسِكُمْ
اَفَلاَتُبْصِرُونَ وَفيِ السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَاتُوعَدُونَ
Artinya: Dan
di dalam dirimu apakah engkau tidak memperhatikan ? Dan dilangit (ada
ketetapan) rizqimu dan sesuatu yang dijanjikan kepadamu (QS. Ad-Dzariyat 22-23).
Ayat di atas mengingatkan agar memperhatikan apa yang ada dalam diri kita,
sesuatu yang paling penting dan berperan dalam diri hidup,
yaitu nafas. Kita bisa bernafas dengan baik dan nikmat apa bila hidung
berlubang dapat menghirup udara
oksigen dengan gratis tanpa membayar,
sedang kalau dirumah sakit oksigen itu cukup mahal harganya. Dan betapa nikmatnya lagi kalau kita
mau memperhatikan dan merasakan nafas yang sudah diatur iramanya oleh Allah SWT,
seandainya kita selalu mengikutinya. Dan kita akan merasakan kurang nyaman
kalau nafas ini ditahan perlahan-lahan
atau dipercepat dengan tidak sesuai pada irama ketentuan Allah, apa lagi dihentikan.
Irama nafas manusia adalah hukum qudroti Allah yang harus diikuti.
Wujud nafas dihidung itu karena
adanya peran dorongan paru-paru ciptaan Allah SWT. Paru-paru bergerak karena
adanya dorongan jantung. Jantung bergerak karena adanya dorongan dari darah.
Darah bergerak dan berfungsi karena ada roh, tanpa ada roh yang menyatu dengan
jasad maka organ manusia tidak bisa berfungsi, berarti manusia mati. Dan yang
menyatukan dan memisahkan jasad dengan roh itu adalah Allah SWT.
Banyak manusia yang tidak sadar
bahkan lupa pada dirinya sendiri, mereka wujud diwujudkan, hidup dihidupkan,
bernafas sudah ada yang mengatur irama nafasnya, manusia hidup hanya tinggal
mengalir mengikutinya.
Coba kita berhenti sejenak dahulu
membaca buku ini, buktikan dan amati nafas yang keluar masuk dihidung 1 - 3
menit saja, ikuti iramanya dan rasakan kemudian syukuri!. Pasti kita akan
menemukan rasa nikmatnya bernafas yang berarti rasa itu nikmatnya hidup yang
dihidupkan Allah yang maha Kasih dan Sayang.
Bismillah Subhanallah Alhamdulillah,
sungguh benar Allah Maha Kasih Sayang pada manusia. Mau bersyukur pada nikmat
Allah tidah usah menunggu dapat makan makanan yang lezat, bisa naik mubil yang mewah,
bertempat tinggal dirumah mewah dan menunggu mempunyai uang banyak.
Maka Nabi saw pernah bersabda:
"Allah itu sayang kepada hamba
hambanya melebihi
dari sayang seorang ibu kepada anaknya".
Demikianlah Allah
SWT terhadap manusia makhluk yang dijadikan-Nya, manusia bisa tahu tentang
wujud Allah, dari keajaiban tubuhnya, ia dapat tahu tentang Kekuasaan Kasih
Sayangnya dan Kebijaksanaan Allah dan
dari kurnia nikmat Allah yang tidak terbatas itu, nampaklah Cinta Allah SWT kepada
hamba-Nya.
Apakah tidak disadari bahwa Allah
SWT itu sangat pemurah dengan memberi pada kita oksigen
dengan gratis? maukah kita bersyukur? Dan belum lagi pemberian yang lain,
seperti lidah yang bisa merasakan nikmatnya gurih, manis, asin, pedas dan lain
lain dengan peralatan komponen yang lebih canggih dari pada robot yang canggih.
Apalagi jika menghitung pemberian nikmat yang di berikan oleh Allah SWT rizki, setiap hari masih bisa makan dan minum dll, sungguh
sukar kita menghitungnya. Allah SWT
sudah berfirman :
وَاِنْ
تَعُدُّوْانِعْمَتَ اللهِ لاَتُحْصُواهَااِنَّ اْلاِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ.
سورة ابراهيم. اية .34
Artinya: Dan jika kamu menghitung
ni’mat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Dan sesungguhnya manusia itu
sangat dzolim dan sangat mengingkari (ni’mat Allah).
Bagaimanakah seandainya Allah SWT
mulai mengurangi atau mangambil nikmat dengan datangnya rasa sakit ? Rumah,
kendaraan, istri, makanan dan minuman mulai tidak
bisa dinikmati dengan maksimal. Bisakah
manusia menghalangi pada kehenda-Nya? Jelas ini tidak akan bisa dihalang. Allah SWT yang Menciptakan, yang Berkuasa dan Berkehendak apa saja. Kita manusia lemah tidak kuasa apa apa, hina penuh
noda dan dosa. Kita hanya diperintah ikhtiar memilih usaha dan
menjalaninya. Tidaklah
pantas bagi kita manusia yang melupakan pada nikmat-Nya, tidak
bersyukur dan ingkar sombong hidup di dunia sesama makhluq dan kedua orang tua, apa lagi kepada
Tuhannya, tidak mau
memohon ampunan-Nya dan
bertaubat kepada-Nya.
Bertaubat tidak usah menunggu sakit atau datangnya usia tua dan menunggu mampu memenuhi
persyaratan taubat yang seharusnya lengkapi.
Ada beberapa orang yang tidak mau taubat dan takut bertaubat karena merasa usianya masih muda dan belum bisa memenuhi persyaratan
taubat. Hendaknya kita melakukan taubat itu secara
jujur saja dengan kemampuan apa adanya dahulu,
nanti lama kelamaan tidak terasa akan menjadi taubat nasuha. Hal tersebut lebih
baik kita lakukan dari pada mengaku akan bertaubat nasuha dengan menunggu
datangnya usia tua. Yang demikian itu lebih beresiko dikemudian hari karena umur tidak dapat ditebak. Sebab ibarat
orang mempunyai hutang yang banyak tidak mau mencicilnya. Sebenarnya lebih baik mencicil dengan apa adanya
dari pada membohongi atau tidak mencicil sama sekali, yang penting mempunyai
tekad yang baik dan berusaha melunasi. Derektor Bank pada nasabahnya yang punya hutang banyak,
ketika ia jujur mau mencicil apa adanya dan beriktikat baik ia masih diterima,
apa lagi Allah SWT Dzat
yang Maha Kasih Sayang Maha
Mengetahui pada hambaNya yang masih lemah taubatnya dan Dia Dzat yang Menolong hambaNya yang masih lemah.
Dengan menyadari kenyataan jati diri hakikat yang hina penuh noda
dan dosa disertai membaca istighfar bertaubat, memohon ampunan pada Allah SWT
dan memohonkan ampunan pada kedua orang tua serta berbuat baik bersyukur
padanya itu bisa menjadi obat pencuci hati. Hati yang bersih menurut
Ibnul Qayyim merupakan cerminan baiknya akhlaq dan moral dan orang tersebut akan mampu menangkap
keberadaan Allah SWT dan pesan-pesan kebaikan dari Rasul-Nya
serta akan dapat memberikan
energy positif yang baru bagi orang
lalai.
Rasulullah
saw pernah mengajarkan do’a kepada kita umatnya membaca sayidul-istighfar dan
bacaan itu merupakan proses awal revolusi moral yang seharusnya dilakukan oleh
semua umat manusia, untuk lebih dapat menyadari Haqiqah, kenyataan jati dirinya
yang hina lemah dan banyak dosa, sehingga dapat menjadi alat pencuci hati yang
kotor karena dosa dan sifat tercela. Ketika sudah rendah hati dan hatinya
bersih maka wujudlah moral sila ke.2: Kemanusiaan yang adil dan beradab. Dan
tidak akan muncul lagi moral warga, wakil dan pejabat yang tidak adil, sombong
dan biadab dzalim terhadap sesama manusia. Ketika manusia sudah ma’rifah kenal
pada keagungan nama dan sifat dan pekerjaan Allah SWT kemudian merasa rendah
hati dan menyadari kenyataan jati diri Haqiqah yang hina, maka tertancaplah
Tauhid, menyatukan Allah SWT. Kemudian ketika mereka sudah mampu menyatukan
antara Ketuhanan dan pri Kemanusiaan, maka mereka tidak akan menemui kesulitan
lagi didalam mewujudkan harapan sesepuh, Ulama’ dan pejuang pendiri bangsa,
yaitu sila ketiga: Persatuan Indonesia. Selanjutnya tidak muncul lagi isu sara
dan PKI Persatuan Koruptor Indonesia yang merusak sendi sendi bangsa dan
persatuan. Bangsa besar yang mempunyai sumber alam yang sangat banyak, warga
negaranya beraneka ragam suku, budaya, bahasa dll.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar